TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA
TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA
Oleh Mochammad Fajar Akbar- 2025
Lihat Tuhan Izinkan Aku Berdosa (2023) Disutradarai oleh Hanung Bramantyo, berupaya menampilkan isu tentang seorang perempuan domestik. Memanfaatkan perpanjangan tangan sinema dengan dibalut oleh agama yang menjadi isu pondasinya. Berupaya meracik beberapa fragment lain seperti kuasa. Namun, menjadikan Kiran (Aghniny Haque) sebagai perempuan yang ter-objektifikasi oleh bingkai kamera, Jadi haruslah kita bertanya ulang apa yang ingin disampaikan pada film ini? Lihat Yuni (2021) berupaya menawarkan isu yang sama dalam membincang tubuh dan nasib perempuan domestik Indonesia yang dibingkai seperti kukungan oleh budaya patriarkal yang kuat. Atau, membicarakan hal tabu lain seperti identitas laki-laki yang feminim. Pengambilan gambar dari Yuni tidak terlalu male gaze, etika kerja sinematografi diperhatikan dengan sangat apik.
Apollonian dan Dionysian
Kisah Apollonian dan Dionysian ini merupakan simbol yang disuarakan oleh Nietzsche. Ia meminjam kisah mitologi Yunani yang penggambaran Apollonian adalah seseorang yang logis, keteraturan dan memahami dunia secara objektif. Sedangkan Dionysian adalah dewa pemabuk, dewa teater, bersenang-senang dan ekstaksi. Perbedaan dari Apollo dan Diony dilukis secara kontras pada film ini, terlebih konsep ini terjadi bukan hanya pada diri Kiran secara intra saja. Tapi, membuat dunia dan sosial menggunakan konsep Apollo dan Diony, sederhananya film ini memecah semua orang menjadi hitam dan putih kemudian berupaya untuk menjadikannya abu-abu; yang dulunya adalah pengikut Apollonian atau ketaatan dan kebaikan berbalik menjadi hamba Dionysian. Seperti kita bisa lihat rekan Mapala yang dibingkai dengan anak muda yang nakal dan hanya tertawa-tawa seakan akan hidupnya tanpa kejelasan itu berujung menyelamatkan Kiran, tentulah menyelamatkan nyawa itu layak pendapat pujian amat baik. Sebaliknya, kita dapati bahwa orang-orang garis kanan Islam pada film itu menjadi para teroris, Sebuah kontras.
Film ini tidak perlu berpikir berlangkah-langkah perkara munafik atau hipokrit. Apollonian merupakan tesis bagi Kiran dahulu sedangkan Dionysian merupakan antitesis, menurut Hegel perpaduan antara Tesis dan Anti Tesis akan melahirkan Sintesis. Tesis kiran berkata bahwa Islam itu benar dan optimis akan selalu membawanya kepada kebaikan. Ini adalah upaya pengembangan karakter secara mayor yang berkembang selama film melaju dan mungkin dalam novelnya yang lalu, tapi kita cermati kembali bahwa pengembangan karakter Kiran cenderung pasif, artinya ia hanya berubah ketika sesuatu akan menimpanya.
Namun, konsep Apollonian dan Dionysian ini sejatinya tidak hilang pada karakter sifat Kiran. Kiran walaupun berlaku ekstaksi, bersenang-senang ia memiliki sifat Apollonian walau sudah seakan menjadi hamba Dionysian, ia seperti anti vilain yang berlaku mengupas kejahatan dengan cara yang salah. Kiran tetap percaya kepada Tuhannya, ingin melepas topeng kemunafikan pada orang yang dia anggap munafik. Ia menjadi pelacur ingin mencari pejabat dari partai “hijau”, terlihat sholeh dan taat beragama, guna membuka aib mereka. Selain itu hijab atau kerudung disimbolkan dengan cara yang cukup kuat, Kiran tidaklah ia membuka kerudungnya meskipun sudah menjadi pelacur. Kiran tetap Kiran, ia menantang Tuhannya yang mengecewakannya, diatas gunung menatap langit yang bergemuruh, kamera menengadah ke langit menandakan ketinggian Tuhan atau representasi marah dari sang maha, pengambilan sinema seperti ini bisa kita lihat dari FTV atau Sinetron Indonesia tahun sekarang; Sinetron Azab, misal. Tapi satu yang tak bisa lepas dari Kiran, sampai akhir film ia tetap beriman kepada Tuhannya disimbolkan dengan kerudungnya, meski ia kecewa.
Sesuai Teori Hegel, ketika Tesis Apollonian dan Anti Tesis Dionysian menghasilkan Sintesis karakter Kiran pada penghujung film, Sintesis ini merupakan kesimpulan dari setiap nasib yang menimpa Kiran atau kehendak Kiran tersendiri. Tapi, perkembangan karakter Kiran memang terdapat beberapa plot hole, yang dalam struktur dramatis bisa dipanjangkan menjadi durasi berapapun, karena penulisan pada film ini sejujurnya bisa saja disingkat seefektif mungkin, atau memang bisa dilebarkan selebar apapun karena posisi Kiran tidak jelas motivasi, tindakan dan reaksi pada karakter Kiran; tidak natural.
Antara Determinisme dan Free Will
Tan Malaka dalam bukunya, Dari penjara ke penjara ia menuliskan bahwa ada dua dorongan yang menyebabkan jiwa yang hidup itu bergerak; kehendak mau hidup dan kehendak menolak mati (Malaka, T. (2007) Ketika kita berbicara kehendak bebas berkaitan dengan filsafat eksistensialisme, sederhananya free will adalah konsep sentral dalam eksistensialisme. Eksistensialis melihat manusia sebagai "proyek yang belum selesai", yang secara terus-menerus menciptakan dirinya sendiri melalui pilihan-pilihan yang dibuatnya. Kebebasan ini membawa tanggung jawab yang besar, karena setiap pilihan yang dibuat akan membentuk siapa kita dan dunia di sekitar kita (Fahmi, D. (2020), berkebalikan dengan Determinisme jelas bertentangan dengan pandangan inti eksistensialisme. Eksistensialis menolak gagasan bahwa manusia adalah sekadar produk dari faktor-faktor eksternal. Mereka berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri, meskipun dalam kondisi yang seringkali tidak ideal.
Bifurkasi atau percabangan jalan hidup yang dialami Kiran sebagai perempuan adalah ketika ia tidak memiliki ekonomi yang cukup serta belum berpikiran Dionysian, ia harus menghadapi bahwa ia akan dinikahi oleh Abu Darda atau ia menderita secara ekonomi. Keadaan yang menimpa Kiran adalah reaksi dari ekonomi Kiran yang bermuara pada ayahnya yang sedang sakit-sakitan. Namun, tidaklah ada pilihan lain masalah demi masalah dan serangkaian kejadian pada film ini membuat Kiran terhanyut-hanyut dalam eskalasi yang lebih besar.
Penggugatan Kiran pada takdir di sini membawa Kiran kepada radikal, ia radikal dan berusaha melawan Tuhan dengan tubuhnya yang rapuh serta ditengah budaya patriarki yang meraja bebas. Kiran lantas berpelacur menikmati uang yang begitu banyaknya, hidupnya tercukupi dan tentu orang-orang pesantren dahulu itu tidak lagi mengusiknya. Editing pada film ini membawa kita untuk membaca sebuah jukstaposisi antara waktu lampau dan sekarang berusaha untuk membandingkan Kiran yang dijepit oleh dua keadaan yang mengukungnya, yang dimana dua-duanya tidak ada baiknya. Perlu kita ketahui, dalam kepercayaan Islam menjabarkan bahwa “doa” itu merupakan senjata, bukan merupakan ibadah semata. Ditambah, doa orang tua konon katanya akan cepat dimustajab. Kita dengar dalam salah satu adegan awal film, ayahanda Kiran itu berkata “Uangnya lebih penting untuk Kiran, untuk dakwahnya” Dakwah disini adalah menyeru dan menunjukkan kepada kebaikan. Tapi doa dan ucapan itu hilang, dari awal sampai babak tiga film, hingga akhirnya dakwah itu muncul sebagai isyarat tak tertulis. Kiran berhasil mewujudkan doa ayahnya, dengan berhasil membongkar topeng pemimpin yang masokis, yang munafik, barangkali ini adalah sebuah bentuk dakwah yang unik, sekali lagi Kiran tetaplah Kiran ia meretakan topeng kemunafikan guna membuat orang sadar dan bukan semata balas dendam karena ia tidak dipercaya. Kiran sudah menjadi Sintesis.
Dipertemukan dengan dosen yang cabul bukan kehendak Kiran, pula ditemukannya dengan anak mahasiswa mapala juga bukan pula kehendak Kiran, hendak dinikahi dengan Abu Darda juga bukan kehendak Kiran pula. Kehidupan Kiran penuh warna, sehingga patut kita bertanya darimana kah serangkaian kejadian yang membuat cerita pada film ini bermunculan? Apakah dari pilihan-pilihan yang dibuat oleh Kiran atau memang takdir dari Tuhan? Sebuah determinasi dari serangkaian peristiwa yang pilu. Struktur penceritaan pada film ini dipertanyakan ulang, setidaknya apakah menjadi pelacur itu adalah hasil dari pilihan Kiran atau memang takdir Tuhan? Bagaimana jika Kiran malah menikah dengan Abu Darda? Atau bagaimana jika Kiran tidak membuka topeng-topeng munafik itu? Bagaimana juga jika Kiran terlanjur jatuh ke dalam ekstaksi dan menikmati dirinya dan tubuhnya disetubuhi secara bebas?
Pada akhirnya dari pertanyaan what if di atas ada garis merah yang sama, ini perkara bagaimana Kiran membawa tubuh perempuannya itu menjelajah. Namun, tidaklah juga serangkaian kejadian perih itu terjadi karena lingkungan sosial Kiran? Social agency (Gardner, A. (2012) adalah sebuah konsep kita seseorang itu masih diberikan kesempatan untuk memilih, Konsep ini berkaitan erat dengan kehendak bebas. Film berfokus pada peristiwa yang dialami Kiran, pada sejatinya ia berhak memilih dan social agency nya sama sekali tidak direbut. Dalam Like & Share (2022), perampasan agency bagi manusia terutama perempuan adalah dengan melakukan intervensi dari pihak yang lebih berkuasa, yang lebih berkuasa disini bukan karena penyebab patriarkal tapi memang manusia yang sudah memiliki kuasa atau elit kecil-kecilan.
PERLAWANAN MELAWAN ELIT DAN POST TRUTH
Menurut Teori Relasi Kuasa, Foucault menekankan tentang kuasa itu bukan dimiliki oleh sekelompok minoritas orang saja melainkan sifat kuasa itu dinamis dan beroperasi pada lingkungan-lingkungan kecil seperti sekolah (Ball, S. J. (2012) contoh pada film adalah Daarul (Andri Mashadi Trinugraha) adalah elit kecil dari kalangan Mahasiswa yang mengutip ulang perkataan Abu Darda “Kalau berbicara siapa yang lebih dipercaya?” ini menunjukkan relasi kuasa dan mengintimidasi bahwa Kiran bukanlah siapa-siapa. Bahkan efek ini menjadi bahan argumen kuat pada film ini, menunjukkan bahwa Kiran bukanlah siapa-siapa ia hanya seorang perempuan yang kodratnya menolak mati, upaya untuk tetap hidup. Namun terjebak dalam kuasa Daarul yang menghindar dari Kiran setelah mereka pertama kali dalam berhubungan seksual. Kalimat “siapa yang lebih dipercaya” ini terbawa hingga tempat yang bernama rumah bagi Kiran, sebuah garis tebal yang muncul dalam film ini bahkan sekelas orang tua itu tidak mempercayai anaknya dan lebih mempercayai seorang kiai yang jauh disana.
Elit ini mengukung dan berkuasa, ditambah pula permainan Abu Darda dalam menjalankan tingkah laku yang kejinya itu didukung dengan teori Post Truth, Post-truth adalah kondisi di mana fakta objektif menjadi kurang penting dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan daya tarik emosi dan keyakinan pribadi. Dalam era post-truth, emosi dan keyakinan pribadi seringkali mengalahkan informasi faktual (Sismondo, S. (2017).
Ketika post truth ini berjalan dengan Abu Darda itu berbohong tidak pernah menelepon Kiran, lalu Kiran dikirimi sebuah surat sederhana berisi ancaman masuk Neraka. Jelas yang menolong adalah para perempuan yang jauh dari agama, terkadang Elit itu juga haus baik elit agama atau-pun elit partai, keduanya sama-sama membutuhkan tubuh perempuan untuk memuaskan birahinya. Hanya saja politik atau cara yang digunakan berbeda tetapi sama-sama menunggang pada kekuasaan.
Tuhan Izinkan Aku berdosa memang berupaya menampilkan bahwa ustaz itu bisa saja munafik, atau elit partai yang dikesankan baik itu juga munafik. Disiarkan memainkan teknologi televisi bisa membutakan yang jauh (keluarga Kiran). Kiran juga adalah seorang perempuan yang dengan tubuhnya ia menjelajahi merobek topeng hipokrit itu adalah wujud dari doa ayahnya yang ingin anaknya berdakwah. Ia melawan dan beranjak dari karakter yang sebelumnya adalah Kiran yang pendiam dan pasif, berubah menjadi aktif dan radikal. Dalam film ini juga banyak shot atau framing bahwa ideologi Islam itu bertentangan dengan Hal buruk seperti perzinahan, musik dan kesenangan dunia. Namun bisa ditunjukan bahwa keduanya menimbulkan kerusakan yang sama.
Dan, Terlepas dari itu semua Tuhan Izinkan Aku Berdosa mengambil jalan menimbulkan jawaban dan membingkai bahwa tidak semua hitam itu harus putih dan putih harus hitam, membincang film juga penulis tidak merasa film ini menggugat atau berupaya melindungi perempuan dari male gaze atau budaya patriarkal hanya menunjukkan saja bahwa kejadiannya seperti apa yang terjadi pada film mereka. Salah satu adegan ketika Kiran bercinta dengan Tomo menggunakan adegan slow motion, kamera yang lambat menunjukkan bahwa tubuh Kiran itu adalah objek. Apa yang harus diupayakan jika narasi dalam film ingin membincang dan mengangkat derajat wanita tapi pengambilan gambar malah menghinakannya? Ataukah kita sudah termakan bisnis bahwa film yang indah adalah film yang mengeksplorasi tubuh perempuan dan cantiknya?
Upaya pengambilan etika dengan cara kerja sinematografi sedikit banyaknya pada film ini adalah me-romantisasi adegan yang menghinakan Kiran sebagai wanita, pun dengan demikian bagaimana direksi dengan “tubuh” perempuan itu ditunjukan dengan erotis menyebabkan asyncronize antara narasi utama dengan cara kerja sinematografi dan direksi. Sayang, padahal dalam sudut pandang penulis tujuan utama film “Tuhan Izinkan Aku Berdosa” selain mendongkrak hitam dan putih disisi lain juga terdapat penunjukan kritis akan keadilan yang tidak selalu berpihak pada perempuan.
Achsani, F. Hubungan drama dan realitas kehidupan, sudah tahukah kalian?.
Ball, S. J. (2012). Foucault, power, and education. Routledge.
Fahmi, D. (2020). PERSEPSI: Bagaimana sejatinya persepsi membentuk konstruksi berpikir kita. Anak Hebat Indonesia.
Gardner, A. (2012). Introduction: social agency, power, and being human. Dalam Agency Uncovered: Archaeological Perspectives on Social Agency Power and Being Human (hlm. 11-25). UCL Press.
Kourvetaris, G. A. (1997). The Dionysian and Apollonian dimensions of ethnicity: A convergence model. International Review of Sociology, 7(2), 229-237.
Malaka, T. (2007). Dari penjara ke penjara.
Mueller, G. E. (1958). The Hegel Legend of" Thesis-Antithesis-Synthesis". Journal of the History of Ideas, 19(3), 411-414
Sismondo, S. (2017). Post-truth?. Social Studies of Science, 47(1), 3-6.
TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA | 2023 | Durasi: 1 Jam 57 menit | Sutradara: Hanung Bramantyo | Produksi: Dapur Film, Tripar Multivision Plus | Negara: Indonesia | Medium Menonton: Netflix | Media Rilis: CineAUF
Moch Fajar Akbar
Galau dari Asgar
Berkarya, menulis dan bersinema










