Hyper Reality, Repetisi; Refleksi dan Juxtaposisisi pada Film Budi Pekerti

Menguliti subjektivitas kolektif keluarga Bu Prani, analisis film "Budi Pekerti" ini membedah sebuah keluarga yang dihantam krisis viral di tengah kungkungan realitas semu era pandemi. Teks ini memetakan pertikaian laksana permainan catur tanpa ampun antara Kubu Putih (Bu Prani) melawan Kubu Hitam (netizen) melalui konsep kunci refleksi, repetisi, dan jukstaposisi. Pertarungan ini berujung pada cermin paralaks tanpa batas yang menelanjangi kedua kubu hingga tak ada bedanya, sementara hiperrealitas secara brutal “membunuh” keluarga dari dalam dan menobatkan entitas netizen sebagai hakim absolut yang maha benar. Analisis ini menegaskan bahwa "Budi Pekerti" bukanlah sekadar film, melainkan sebuah kritik radikal terhadap absolutisme kekuasaan siber, korupsi moral institusi, dan matinya budi pekerti.

·

26 Apr 2024

Blog cover image
Blog cover image
Blog cover image

BAB 1

Film ini mengisahkan tentang subjektivitas kolektif dari keluarga Bu Prani (Febriyanti) awal konflik terjadi adalah ketika adanya perselisihan dengan pelanggan lain di salah satu pasar tradisional tepatnya tukang kue putu, namun perselisihan dengan salah satu pelanggan itu direkam oleh pelanggan lain hingga Bu Prani menjadi viral. Mengambil latar pandemi ketika semua orang berkutat dengan media sosial yang menyebabkan manusia sangat terikat dengan realitas semu.

Keluarga Bu Prani berada pada tekanan ekonomi, walau Bu Prani adalah guru BK yang sudah mengabdi selama 20 Tahun (status TEKANAN EKONOMI ini pula yang menjadi kritik tentang kesejahteraan guru di Indonesia) latar cerita yang dibangun sebagai keluarga menempati posisi yang unik. Didit (Sasono), seseorang yang seharusnya menjadi kepala keluarga harus absen pada posisinya dikarenakan menderita gangguan psikologis sehingga Bu Prani-lah yang menggantikan posisi, peran, serta tugas seorang kepala keluarga. Dua anak lainnya yaitu Muklas (Yunanda) dan Tita (Latuconsina) hadir sebagai anak yang sudah tumbuh besar; membantu ekonomi keluarga dan membantu memberi masukan untuk kebijakan yang akan diambil oleh keluarga. Termasuk pemilihan keputusan yang mempengaruhi nasib keluarga mereka kelak.

BAB 2

Isi

Repetisi; Refleksi dan Juxtaposition

Terngiang dan bergema di telinga setelah kata “refleksi” dalam film ini “direpetisikan” berkali-kali, sebuah kata yang menjadi kunci pada film ini. Refleksi ini bukan sebanal membicarakan tentang hukuman atau evaluasi bagi murid bu Prani. Tetapi adalah sebuah konsep cermin yang terus menembus batas tanpa memandang rintangan dan halangan sang subjek. Konsep cermin atau refleksi adalah konsep parallax tanpa batas yang dihadapi oleh keluarga Bu Prani. Keluarga Bu Prani bersifat aktif bukan reaktif, bersifat ekspansif bukan pasif merupakan dasar awal semua masalah bermula. Film ini bagaikan Permainan Catur, dimulai Kubu Putih dengan langkah inisiatif Bu Prani menegur salah satu pembeli putu, dan dibalas dengan Kubu Hitam yaitu netizen, sosial media, atau entitas diluar dari keluarga Bu Prani dengan membuat resistensi serta perlawanan. Perwujudannya KUBU HITAM berupa sanksi sosial di internet atau dunia maya.

Pertumbuhan cerita yang gesit dan kejam. Sehingga permainan catur ini tidak terhentikan disitu saja. Setelah Bu Prani dikenakan sebuah “pukulan” dari kubu hitam YAITU Bu Prani dijadikan Meme dan lelucon, Bu Prani membalas dengan memberikan video klarifikasi. Yang kemudian hari dibalas lagi oleh Kubu Hitam dengan somasi sehingga mengancam karir bu Prani. Kemudian perlawanan dilanjutkan dengan dibantu oleh kolega dan alumni siswa Bu Prani. kemudian dibalas dengan video Gora yang menggali kubur, hingga kolega dan alumni berbalik melawan Bu Prani. Tanpa ampun, tanpa menghela nafas sedikitpun, pertikaian ini berlanjut tanpa terkendali.

Pembalasan antara kubu putih dan hitam terjadi menjadikannya fenomena juxtaposition yang rumit dan kompleks, serta juga mendukung konsep “refleksi” yang menjadikannya sebuah kaca parallax berujung pada rupa yang tidak ada bedanya antara Bu Prani dengan Netizen; YAITU tidak mau mengalah antara satu sama lain, terlepas ucap Mukhlas sang anak “Salah atau benar itu cuma perkara siapa yang paling banyak ngomong”. Tapi juxtapose atau peperangan ini berakhir ketika Bu Prani mengurungkan niatnya mengunggah video permohonan maaf serta meminta sebuah mantra magis “Netizen do your magic” untuk mencari sang kepala keluarga, walau pengunggahan ini telah diintervensi DAN DITEKAN oleh kedua anaknya. Bayangkan jika Keluarga Bu Prani mengunggah video permintaan maaf tersebut? Maka kedua belah pihak akan terus membalas satu sama lain dan menjadikannya Bola salju yang semakin besar serta tidak dikontrol DAN parallax refleksi yang ter-repetisi. Peperangan ini juga berakhir dengan mengalahnya Bu Prani yaitu melepas jabatannya sebagai guru dan juga sebagai tanda bendera putih Bu Prani atas masalah yang dihadapi.

BAB 3

Hiper Realitas yang “Membunuh” Keluarga

Berangkat dari kajian Hiper Realitas yang menafsirkan bahwa kehidupan realitas pertama atau realitas kita saat ini dicampur adukan dengan realitas maya, sehingga kita tidak dapat membedakan DAN MALAH mencampur adukkan kedua dunia tersebut. Kemudian manusia akan mempertanyakan atau masuk kedalam dunia virtual sehingga hal yang disebut dengan realitas itu sendiri menjadi kabur. Dunia maya yang seharusnya kita masih bisa hidup meski tanpa realitas tersebut dalam film ini berhasil “menelanjangi” keluarga Bu Prani, serta menjadikan entitas Netizen adalah entitas absolut. Perundungan kepada guru BK oleh netizen adalah sebuah karma pahit yang harus ditelan oleh Bu Prani, sebuah keironian ketika netizen menjadi meja hijau yang subjektif, menjadi hakim untuk guru BK, serta yang paling penting biasanya Guru BK adalah menasehati tentang Budi Pekerti kini dinasehati oleh netizen yang memiliki kuasa dunia maya serta dengan gelar maha benar dan maha bijak.

Hiper realitas yang digandrungi oleh Mukhlas dan Tita memaksa mereka untuk bertindak aneh-aneh salah satunya adalah tidak mengakui Bu Prani sebagai ibu kandung. Bagi mereka, viral dengan konotasi negatif adalah aib yang dibawa pada dunia nyata. Bagaimana Mukhlas yang ingin menghindar dan melarikan diri dari masalah dengan tidak mengakui ibunya sendiri atau Tita yang berusaha memperbaiki dunia maya seusaha dan sebisanya. Justru yang menjadi penyelamat adalah kembalinya peran kepala keluarga (Ayah) dengan inisiatif yang dilakukan secara Luring atau di luar Hiper Realitas itu. Selama film ini berlanjut acap kali Keluarga Bu Prani bergelut dengan internet, maka saat itu juga masalah akan datang.

BAB 4’

Yang Awal adalah Yang Akhir

Semiotika pada film ini terpapar secara sunyi, tanda dihadirkan akan bisa dibaca setelah kita membaca seluruh film. Terlepas dari warna kuning dan biru yang konon katanya sesuai dengan buku tabungan pancasila, atau sebuah warna YANG MENCERMINKAN aura positif. Tapi beberapa “sign” dihadirkan dengan bias dan cerdik. Awal film disajikan dengan visual di pantai yang merupakan ujung sebuah pulau. Sedangkan pada akhir film ditunjukan sungai yang merupakan lawan dari hilir (pantai), merupakan sebuah pembacaan tanda dari yang akhir akan bermulai.

Kemudian ketika pada awal film Bu Prani menyalakan ring light dan memainkan warnanya secara bergantian merupakan sebuah tanda akan terjadinya kedinamisan cerita, lalu di penghujung film dihadirkannya adegan sang Ayah berkata “Ini ring light dibawa jangan?”, lalu Mukhlas berkata “Tidak Pak! Simpan saja” dengan pengambilan gambar yang sama, posisi yang sama saat Bu Prani memainkan ring light tersebut. Pak Didit mematikan ring light itu, bisa menjadikan pertanda bahwa keluarga Bu Prani berhenti dan keluar dari Hiper Realitas yang berhasil menelanjangi, membabi buta, dan membuat mereka buntu.

Kemudian pada awal film Bu Prani menyuruh muridnya memutar ulang sebuah perkataan “Bodoh. Goblok. Tolol. Pethuk. Ubur-ubur” secara berulang sebagai bentuk “refleksi” pada tumbuhan kecambah yang sedang tumbuh, pada babak tiga film juga ditunjukan kembali perkataan itu sebagai representasi dari animalous “Kalau dunia terasa berisik, dengarkan detak jantungmu.” Bu Prani pada adegan dengan Gora berkata bahwa itu adalah metodenya untuk meredakan stress namun secara tidak sengaja ia pernah mencoba dengan pendekatan seperti itu. Sekali lagi, film ini menghadirkan “cermin” raksasa awal dan akhir yang di dalam “cermin” itu dihadirkannya “cermin-cermin” YANG REFLEKSI-REKLEKSI tanpa batas lainnya.

PENUTUP

Pada akhirnya film Budi Pekerti ini layak mendapatkan apresiasi yang mahal, mengkritik yang ada pada didepan mata kita, membangunkan hasrat purba yaitu dominasi kekuasaan. Entah dominasi kekuasaan yang berasal dari keinginan hewani sebagai manusia atau manusia sebagai sang penakluk (perundungan), serta menjadikan netizen sebagai sebuah kekuatan absolut, absolute power corrupt absolutely. Banyak sekali kecocokan narasi dengan dunia nyata yang menjadikannya kritik, mungkin seperti kritik pendidikan dan kualitas guru, atau mungkin sekolah yang mengedepankan nama baik yayasan sehingga mengorbankan kualitas PENDIDIKAN ITU SENDIRI (korup moral). Pada akhirnya film ini BERTUJUAN mengkritik moral pendidikan yang seharusnya menjadi fundamental setiap manusia, seperti; Budayakan mengantre, meminta maaf, jujur, tidak korup, menaati orang tua, menghargai orang tua, tidak egois, dan berpendirian kepada kebenaran.

Moch Fajar Akbar

Galau dari Asgar

Berkarya, menulis dan bersinema

More in

Kritik

entrepreneurshipentrepreneurship

Kritik

TRADISI KENIKMATAN PALSU DAN PERAYAAN PEMBEBASAN PEREMPUAN DALAM FILM SEHIDUP SEMATI (2023)

24 Okt 2025

Kritik

TRADISI KENIKMATAN PALSU DAN PERAYAAN PEMBEBASAN PEREMPUAN DALAM FILM SEHIDUP SEMATI (2023)

24 Okt 2025

Kritik

TRADISI KENIKMATAN PALSU DAN PERAYAAN PEMBEBASAN PEREMPUAN DALAM FILM SEHIDUP SEMATI (2023)

24 Okt 2025

Kritik

Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh

31 Agu 2025

Kritik

Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh

31 Agu 2025

Kritik

Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh

31 Agu 2025

Kritik

Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa

31 Agu 2025

Kritik

Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa

31 Agu 2025

Kritik

Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa

31 Agu 2025

Kritik

Aparatus Rekonsiliasi: Reproduksi Kekerasan Budaya dalam 'Kupu-Kupu Kertas'

31 Agu 2025

Kritik

Aparatus Rekonsiliasi: Reproduksi Kekerasan Budaya dalam 'Kupu-Kupu Kertas'

31 Agu 2025

Kritik

Aparatus Rekonsiliasi: Reproduksi Kekerasan Budaya dalam 'Kupu-Kupu Kertas'

31 Agu 2025

Kritik

Melihat Penuturan Mitos dalam 3 Babak Narasi Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025)

31 Agu 2025

Kritik

Melihat Penuturan Mitos dalam 3 Babak Narasi Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025)

31 Agu 2025

Kritik

Melihat Penuturan Mitos dalam 3 Babak Narasi Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025)

31 Agu 2025

Kritik

GJLS (2025): Menertawakan yang Tidak Harus Ditertawakan

29 Agu 2025

Kritik

GJLS (2025): Menertawakan yang Tidak Harus Ditertawakan

29 Agu 2025

Kritik

GJLS (2025): Menertawakan yang Tidak Harus Ditertawakan

29 Agu 2025

Kritik

MEMVALIDASI STEREOTIPIKAL KORBAN PERUNDUNGAN DALAM PENATAAN KAMERA DAN NARATIF FILM LURUH (2025)

27 Jan 2025

Kritik

MEMVALIDASI STEREOTIPIKAL KORBAN PERUNDUNGAN DALAM PENATAAN KAMERA DAN NARATIF FILM LURUH (2025)

27 Jan 2025

Kritik

MEMVALIDASI STEREOTIPIKAL KORBAN PERUNDUNGAN DALAM PENATAAN KAMERA DAN NARATIF FILM LURUH (2025)

27 Jan 2025

Kritik

TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA

21 Jan 2025

Kritik

TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA

21 Jan 2025

Kritik

TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA

21 Jan 2025

Kritik

Rumah Masa Depan: Artikulasi Elit dan Alienasi Non-Elit dalam Kapitalisme Pedesaan

31 Agu 2024

Blog cover image

Kritik

Rumah Masa Depan: Artikulasi Elit dan Alienasi Non-Elit dalam Kapitalisme Pedesaan

31 Agu 2024

Blog cover image

Kritik

Rumah Masa Depan: Artikulasi Elit dan Alienasi Non-Elit dalam Kapitalisme Pedesaan

31 Agu 2024

Blog cover image

Ingin kami hubungi setiap kami posting? isi emailnya ya!

Zero spam, just the good stuff

Ingin kami hubungi setiap kami posting? isi emailnya ya!

Zero spam, just the good stuff

Ingin kami hubungi setiap kami posting? isi emailnya ya!

Zero spam, just the good stuff

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.