Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh
Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh
Karya Abi Adz Ghifari
“Terik panas jam 13:20 menusuk dari kepala hingga ke dalam, bercampur dengan kebisingan dan ruwetan perasaan. Tubuh mulai kehilangan arah, jiwa berantakan, datang dengan kekosongan lalu tumbuh dengan kelimpungan. Perasaan seakan sirna tanpa kebaikan, mungkin pembuat surga dan neraka sedang tertawa melihat keegoisan para tentaranya”.
Bait puisi di atas mungkin terasa membingungkan, samar, bahkan sulit dipahami. Namun begitulah watak puisi terkadang indah, terkadang melelahkan, seringkali menuntut pembaca untuk menafsirkan lebih jauh. Pertanyaannya adalah bagaimana jika “puisi” semacam ini dihadirkan dalam medium film? Apa jadinya jika sebuah film disusun hampir sepenuhnya dari poetic dialogue? Apakah akan terasa segar dan eksperimental, atau justru membingungkan, melelahkan, bahkan mengasingkan penontonnya?

Poster Film Puisi Cinta yang Membunuh
Sumber: IMDb
Pertanyaan itulah yang muncul saat menyaksikan Puisi Cinta yang Membunuh (2023), film sekaligus eksperimen art-horror baru dari Garin Nugroho. Diadaptasi dari kumpulan puisi Adam, Hawa, dan Durian, film ini bercerita tentang Ranum, seorang perempuan yang larut dalam kata-kata puitis hingga terjebak dalam relasi cinta penuh manipulasi. Pengkhianatan itu memicu teror psikologis dan trauma, yang menjelma menjadi horor, bukan lewat hantu atau monster, melainkan lewat rasa sakit yang sulit dipulihkan.
Sayangnya, Garin yang dikenal piawai dalam memadukan estetika seni dengan film justru kali ini tampak terlalu asyik dengan puisinya sendiri. Alih-alih menghadirkan kisah yang mampu menyentuh dan melibatkan emosi penonton, film ini cenderung “over-poetic” hingga menciptakan jarak dengan audiens. Teror yang lahir dari trauma Ranum akhirnya kalah oleh teror lain kebingungan penonton yang dipaksa mencerna dialog puitis tanpa henti. Dengan kata lain, Puisi Cinta yang Membunuh lebih sering membuat penonton berpikir keras “apa maksudnya” ketimbang merasakan langsung atmosfer horor yang ingin dibangun. Di titik inilah eksperimen art-horror Garin perlu dikritis ketika seni justru menutup akses bagi penonton, maka film kehilangan daya hidupnya sebagai medium komunikasi antar penonton dan pembuat film itu sendiri.
1. Ranum, Ekspresi Emosional, dan Pistanthrophobia
Karakter Ranum digambarkan dengan kepedihan yang nyata. Ekspresi wajahnya menampilkan siklus emosional yang kompleks yakni dikhianati, merasa bodoh karena percaya, takut hal yang sama akan terulang, hingga kehilangan rasa aman untuk kembali membuka diri. Reaksi-reaksi ini menguatkan teori Facial Expression Paul Ekman (1999) yang menyebut bahwa emosi bukan hanya sesuatu yang dirasakan, melainkan juga dikomunikasikan secara nonverbal. Ranum, lewat wajah dan gesturnya, seolah berbicara langsung kepada penonton tentang luka yang ia bawa.
Namun, problem muncul ketika Garin menjadikan luka itu sekadar instrumen artistik. Alih-alih membangun empati, film ini lebih sering menyorot trauma Ranum sebagai aesthetic spectacle. Ranum menderita bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menegaskan gagasan sang sutradara. Inilah yang problematis adalah trauma perempuan yang seharusnya dipahami dengan empati malah diperlakukan sebagai “alat seni.”
Kondisi ini bisa dibaca lewat lensa pistanthrophobia adalah rasa takut mempercayai orang lain akibat pengalaman traumatis (McNeil, 2020). Ranum menjadi representasi jelas fenomena ini. Akan tetapi, Garin tidak menawarkan ruang penyembuhan atau keberdayaan. Trauma Ranum berputar dalam lingkaran horor dan repetisi, tidak pernah selesai, tidak pernah mendapatkan resolusi.
Struktur naratif non-linear yang digunakan Garin memang efektif memvisualisasikan trauma (Herman, 1992). Tetapi dalam eksekusinya, alur yang maju-mundur justru membingungkan penonton. Disorientasi yang seharusnya membuat audiens “merasakan trauma” malah berubah menjadi alienasi. Trauma bukan hanya milik Ranum, tetapi juga penonton yang dipaksa bertahan dalam labirin narasi.
2. Art-Horror, Simbolisme, dan Puisi sebagai Teror
Mengacu pada Noël Carroll (1990), art-horror adalah horor yang tidak lagi bergantung pada monster atau setan, melainkan pada gagasan filosofis, simbolisme, dan ketegangan psikologis. Puisi Cinta yang Membunuh masuk kategori ini, dengan ketakutan lahir bukan dari sosok gaib, melainkan dari kata-kata, bayangan, dan puisi. Ranum tidak diteror hantu, melainkan kata-kata indah yang berbalik menjadi jebakan. Sosok laki-laki yang memikatnya dengan puisi adalah representasi nyata bagaimana bahasa bisa memanipulasi, mengendalikan, bahkan menghancurkan. Simbolisme visual (boneka bayi, tangan pucat, bayangan anak kecil) semakin menegaskan puisi sebagai “senjata dua mata.” Tetapi di sinilah jebakan fatal film ini over-poetic. Poetic dialogue yang seharusnya menghadirkan nuansa romantis justru mendistorsi pengalaman horor. Bagi sebagian penonton, puisi-puisi panjang itu terasa indah bagi kebanyakan lainnya, ia terasa melelahkan. Horor bukan lagi soal atmosfer psikologis, melainkan soal kesabaran audiens dalam menafsirkan bait demi bait. Film ini kehilangan universalitasnya dan berubah menjadi tontonan elitis—film yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang terbiasa dengan gaya puitis Garin.
Di sini letak seni yang terlalu sibuk mengagungkan dirinya sendiri akhirnya berhenti menjadi seni untuk masyarakat. Garin tampak ingin memaksa penonton “belajar memahami puisi” alih-alih mengajak mereka larut dalam kisah horor psikologis. Estetika puisi yang repetitif berubah menjadi teror baru teror kebingungan. Sebagaimana Shelley (1821) menyebut puisi sebagai medium emosi yang intens, Garin justru membuktikan sisi lain puisi yang dipaksakan berlebihan bisa menjadi alat alienasi. Hasilnya adalah film yang lebih sibuk “berbicara dengan dirinya sendiri” ketimbang berdialog dengan penonton.
3. Psikoanalisis, Gender, dan Problematika Estetika
Dari kacamata psikoanalisis Freud, film ini jelas menampilkan konflik Ranum antara dorongan bawah sadar (trauma dan rasa takut) dengan realitas sosialnya. Simbol-simbol horor yang muncul bukan sekadar efek estetis, melainkan perwujudan dari ketakutan batin. Namun, di balik kerangka psikoanalisis itu, ada isu gender yang lebih mendesak. Diperlihatkan dalam membaca bagaimana Garin menampilkan Ranum. Medium shot Ranum seringkali membangun empati, tetapi juga mengontrol bagaimana penonton melihat tubuh perempuan. Ranum adalah korban, tetapi sekaligus diposisikan sebagai objek yang bisa “dilihat” dalam penderitaan. Estetika Garin di sini rawan jatuh pada eksotisasi trauma perempuan—trauma bukan lagi luka, melainkan tontonan.
Masalah semakin jelas ketika film berakhir tanpa resolusi. Ranum terus dikejar simbol, terus terjebak dalam horor, tanpa jalan keluar. Garin, seperti banyak sutradara laki-laki lainnya, memperlihatkan trauma perempuan hanya sebagai “cermin estetika”, bukan realitas yang harus dipahami. Padahal, dalam masyarakat Indonesia saat ini, isu kekerasan dan trauma perempuan sangat nyata. Alih-alih memberi ruang penyembuhan, film ini memilih menutupnya dengan puisi yang semakin abstrak.
Kesimpulan
Puisi Cinta yang Membunuh adalah eksperimen artistik yang berani namun rapuh. Berani karena mencoba menggabungkan puisi, trauma, dan art-horror dalam satu ruang estetis. Rapuh karena eksekusinya jatuh pada jebakan over-poetic yang tidak hanya menjauhkan audiens, tetapi juga menutup kemungkinan bagi film untuk benar-benar menjadi ruang penyembuhan trauma perempuan.
Di titik ini, Garin tampak mengulang pola lama dalam film-filmnya yaitu estetika puitis yang begitu dominan hingga melumpuhkan narasi dan emosi. Dari Setan Jawa yang menekankan tari dan simbol namun sulit diakses penonton umum, hingga Kucumbu Tubuh Indahku yang dipuji festival luar negeri tetapi ditolak sebagian masyarakat karena dianggap terlalu simbolis, Garin berkali-kali lebih memilih memuaskan ambisi dan nafsu estetikanya sendiri ketimbang membangun jembatan komunikasi dengan audiens. Puisi Cinta yang Membunuh tidak terkecuali—ia adalah bukti bahwa Garin lebih sibuk memonumenkan puisinya ketimbang menyembuhkan luka yang ia perlihatkan.
Alih-alih menghadirkan horor psikologis yang menggetarkan, film ini lebih sering menjadi horor elitis, dimana horor yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir kalangan akademik dan pecinta puisi, tetapi gagal menyentuh publik yang lebih luas. Pada akhirnya, film ini bukan hanya bicara tentang cinta yang membunuh, melainkan juga tentang seni yang bisa membunuh dialog antara film dan penontonnya sendiri.
PUISI CINTA YANG MEMBUNNUH | 2023 | Durasi: 1 Jam 41 Menit | Sutradara: Garin Nugroho| Penulis: Garin Nugroho | Rumah Produksi: Starvision | Negara: Indonesia
Rujukan:
Carroll, N. (1990). Philosophy of Horror: Paradoxes of the Heart. Routledge.
Effendi, A. (1986). Film Sebagai Hasil Budaya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Ekman, P. (1999). “Facial Expression and Emotional Behaviour.” In Dalgleish, T. & Power, M. (Eds.), Handbook of Cognition and Emotion. Wiley.
Herman, J. L. (1992). Trauma and Recovery: The Aftermath of Violence—from Domestic Abuse to Political Terror. Basic Books.
McNeil, D. (2020). Pistanthrophobia: Fear of Trusting People in Romantic Relationships. Healthline.
Mulvey, L. (1975). “Visual Pleasure and Narrative Cinema.” Screen, 16(3), 6–18.
Shelley, P. B. (1821). A Defence of Poetry. London.
Abi Adz Ghifari
Creative
Sukaa film 3ksper1ment4L










