Rumah Masa Depan: Artikulasi Elit dan Alienasi Non-Elit dalam Kapitalisme Pedesaan

Film Rumah Masa Depan karya Danial Rifki tidak hanya menyajikan drama keluarga, tetapi juga mengangkat isu ekonomi-politik pedesaan, khususnya terkait kapitalisme dan dominasi elit. Cerita berpusat pada konflik antara menantu dan mertua, yang di baliknya menyimpan masalah elitisme di desa. Film ini menyoroti bagaimana kelompok elit, baik formal (Pak Lurah dan Bu Lurah) maupun informal (keluarga Sukri), memengaruhi dinamika ekonomi dan sosial, terutama dalam konteks pertanian.

·

31 Agu 2024

Blog cover image
Blog cover image
Blog cover image

Dalam buku Film as Social Practice (1999), Graeme Turner menyebut bahwa kehadiran film tak bisa dilepaskan dari praktik representasi — sebuah proses sosial yang menciptakan citra, suara dan tanda — untuk memberikan gambaran makna budaya. Sebagai teks, film kemudian memiliki pemaknaan yang terkandung pada wacana di baliknya yang bersifat ideologis yang mana kemudian dapat dibaca melalui rajutan tanda-tanda dalam film.

Film Rumah Masa Depan garapan sutradara Danial Rifki secara luaran memang berisi drama keluarga — menceritakan konflik antara menantu dan mertua yang membebankan masalah turunan lainnya pada ketidakharmonisan sebuah keluarga.

Dalam film, diceritakan terdapat sebuah keluarga yang terdiri dari ayah Sukri, ibu Surti, anak perermpuan Gerhana, dan anak laki-laki Bayu yang memiliki hubungan berjarak dengan ibu Sukri dan ayah Sukri alias mertua Surti. Keberjarakan tersebut dikarenakan oleh sakit hati dari Ibu Sukri tehadap kakek dari Surti yang menjadi tanda tanya sepanjang film dan akhirnya terjawab pada akhir film.

Namun, dibalik drama keluarga tersebut terdapat wacana yang dapat disingkap yakni berupa problem ekonomi-politik di pedesaan yang berkelindan dengan kapitalisme dan artikulasi elit. Wacana besar tersebut hadir pada kemunculan tokoh petani yang bergulat dengan harga sayuran dengan elit desa — yang dalam hal ini secara formal adalah Pak Lurah dan Bu Lurah. Dan kuasa alternatif dari elit non-formal yakni Pak Musa/ayah Sukri (mantan lurah) dan keluarga. Hal tersebut menjadi pemantik utama dalam film dan menggerakkan alur yang diisi oleh tokoh-tokoh dalam film.

Menyambung kemudian, Turner juga menyebut bahwa film secara paradoksal merupakan produk dari struktur sosial tetapi pada satu sisi ia juga membentuk dan mempengaruhi struktur tersebut: memperbarui, mereproduksi, dan me-review sistem makna (Graeme Turner, 1999).

Dalam kalimat Turner, film menawarkan diri pada ruang pemaknaan baru kepada penonton. Penonton dapat memperoleh teks budaya dari film dan membuat pengaruh pada struktur budaya di masa pasca menonton film: di dunia nyata. Melalui premis tersebut, film Rumah Masa Depan yang mengangkat isu petani, elit dan kapitalisme pedesaan menawarkan pembacaan tentang bagaimana sikap yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan masalah tersebut di dunia nyata penonton yang mana sikap tersebut tertuang dalam praktik naratif pada film.

Membincang Artikulasi Elit

Menurut Gatano Mosca, setiap masyarakat terklasifikasi menjadi dua kelas penduduk, satu kelas yang menguasai dan sisanya adalah kelas yang dikuasai. Kelas pertama, yang jumlahnya selalu lebih kecil, menjalankan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan dan menikmati keuntungan yang diberikan oleh kekuasaan itu, sedangkan kelas kedua, yang jumlahnya jauh lebih besar, diatur dan dikendalikan oleh kelas yang pertama.

Kemudian, menurut Vilpredo Pareto elit terbagi menjadi dua yakni governing elit dan non-governing elit. Governing elit merupakan elit yang menduduki posisi jabatan resmi dalam pemerintahan atau elit formal sedangkan non-governing elit merupakan seorang atau kelompok yang memiliki kekuasaan dan bukan bagian dari pemerintahan resmi tetapi memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan seperti pengusaha, tokoh masyarakat atau bisa disebut elit informal.

Dalam elit, seseorang bisa memiliki kuasa untuk mengatur kelompok non-elit. Sehingga banyak keuntungan politis yang didapat dari pemapanan diri atas status tersebut. Dalam elit, ia mensifati karakter politis dan dinamis. Siapapun bisa untuk menjadi elit dengan proses dan ketetatan yang bermacam tergantung pada status formal atau informalnya.

Dalam film ini, terdapat elit formal yakni Pak Lurah dan Bu Lurah, serta elit informal yakni Pak Musa, ibu Sukri, Sukri sekeluarga, dan Netty yang merupakan anak petani yang terdidik dan penerus kerja pemberdayaan petani Pak Musa.

Karena keelitan ini diletakkan bergerak secara politis dan dinamis, pergerakan tersebut hadir dalam rangkaian cerita film ini pada beberapa tokoh. Dimulai ketika masa Ibu Sukri menjadi anak.

Di masa lalu, ibu Sukri sakit hati pada kakek Surti karena tanah sang bapak diambil oleh kakek Surti — karena bapak dari ibu Sukri tak bisa mengembalikan utang dari kakek Surti untuk pengobatan adik dari ibu Sukri.

Masalah utama film tersebut tergolong permasalahan dalam ruang elit karena secara informal, kakek Surti ialah seorang elit. Ia memiliki kuasa untuk mempengaruhi sebuah peristiwa dalam masyarakat dengan kuasa ekonominya.

Dalam film, rasa dendam yang dimiliki oleh Ibu Sukri sampai diletakkan dengan begitu dalam. Balutan drama dengan gimik pertentangan antara mertua dan menantu berhasil dibentuk dengan serius dan menjadi arus utama dalam film. Pertentangan tersebut banyak digambarkan dengan mise en scene dalam film yang terkesan memberikan jarak seperti pada pertengkaran Surti dan mertuanya yang dipisahkan oleh tembok di tengah, dan shot Surti yang berada dalam mobil dan terbingkai (terisolasi) oleh kaca kendaraan tersebut saat pemakaman Pak Musa.

Perjalanan artikulasi elit kemudian dilanjutkan saat masa sekarang dalam film yang mana ibu Sukri telah menjadi elit sejak suaminya Pak Musa menjadi Pak Lurah pada periode sebelumnya hingga Pak Musa meninggal. Saat ini ibu Sukri berarti seorang mantan Bu Lurah dan Sukri adalah anak dari mantan lurah. Dengan demikian, keluarga Sukri adalah keluarga elit (informal).

Kerja-kerja elitis dari ibu Sukri ditunjukkan dengan kuat dalam film melalui adegan-adegan yang superior dan bersifat dominasi yang ditandai dengan blocking duduk di atas sedangkan warga di bawah saat pembacaan yasin meninggalnya Pak Musa, pemunculan karakter ibu Sukri juga sangat disegani oleh para warga. Selain itu, ibu Sukri juga dibuat berhasil menundukkan aparat hukum polisi — yang berada dalam jangkauan wilayah elitisnya. Ini menunjukkan bahwa dominasi dari ibu Sukri sangat kuat pada lingkungannya.

Sedikit mundur, elitisitas ibu Sukri dan Pak Musa saat menjadi pejabat desa ditunjukkan pada film sebagai seorang pemimpin yang bijak, visioner dan teladan. Hal ini ditunjukkan dengan pengakuan dari warga tentang kepemimpinan Pak Musa yang berpihak pada kesejahteraan petani — termasuk urusan harga pasar. Sehingga, hal tersebut memberikan preseden baik terhadap keluarga ibu Sukri dan memperkuat dominasi pengaruh dari keluarga tersebut.

Dalam artikulasi elit, pola yang terbentuk bisa juga berupa kontestasi antar-elit. Pada film, kontestasi tersebut dimunculkan dalam kontestasi antara keluarga Pak Lurah yakni Bu Lurah dengan ibu Sukri yang merupakan mantan bu Lurah. Kontestasi tersebut ditunjukkan saat Bu Lurah berambisi memenjarakan ibu Sukri dengan payah. Kontestasi antar-elit jamak terjadi karena persaingan dominasi. Dalam hal ini, Bu Lurah ingin mengamankan bisnis tengkulak yang ia monopoli. Sedangkan Ibu Sukri dan kroninya seperti Netty secara tegas berkonfrontasi dengan Bu Lurah dengan kerja pengecekan harga pasar oleh Netty. Pertentangan antara kedua kelompok elit tersebut pada akhirnya menunjukkan secara jelas bagaimana keelitan bersifat sangat politis.

Karena politis, siapapun elitnya ia dapat melakukan sesuatu apapun yang berpengaruh pada kelompok massa yang dikuasai atau diatur. Sehingga, baik buruk elit tergantung tindakan elit tersebut. Namun, yang menjadi niscaya adalah bahwa elit memiliki kuasa atas kelompok non-elit yang mana dalam film ini mengalami artikulasi pada keluarga Sukri dan Pak Lurah dan muncul secara signifikan.

Alienasi non-elit & kapitalisme pedesaan

Kelompok non-elit merupakan kelompok yang diperintah oleh kelas yang berkuasa atau elit. Dalam film, kelompok tersebut secara tebal ditunjukkan oleh eksistensi petani.

Menurut Karl Marx dalam Economic & Philosophic Manuscipt of 1884 (1959), pekerjaan teralienasi adalah ketika pekerjaan tersebut tidak lagi mencerminkan personalitas dan kepentingan orang itu sendiri, pekerjaan berada di bawah pengaruh kehendak asing, yaitu manusia yang lain.

Dalam konsep kapitalisme, alineasi merupakan salah satu tanda terbesarnya. Ia menjauhkan seseorang dari sebuah jati diri menuju keterasingan.

Kapitalisme sendiri menurut Marx adalah sebuah sistem ekonomi yang dibuat dengan tujuan memperoleh keuntungan dari tiap proses produksi dengan cara mode of production: proses produksi dilakukan secara terukur dan sistematis untuk mengurangi biaya produksi hingga seminimal mungkin. Biaya seminim mungkin berada satu tarikan pada keuntungan/profit sebesar mungkin. Dalam kapitalisme sektor pertanian, terdapat dua kelas saling bertentangan yakni borjuasi pedesaan dan proletar pertanian. Dalam film Rumah Masa Depan, kelas borjuasi pedesaan (kapitalis) di sini adalah seorang Bu Lurah dan kelas proletar pertanian adalah petani.

Para petani pada Rumah Masa Depan dihadapkan dengan problem monopoli pasar oleh Bu Lurah yang mana sayur hasil tanahnya dihargai sangat murah. Monopoli pasar oleh Bu Lurah merupakan salah satu ciri dari kapitalisme modern yakni kapitalisme monopoli sedangkan penghargaan yang tak sebanding dengan tenaga dan modal yang diberikan oleh petani dalam konsep kapitalisme disebut sebagai ‘nilai lebih’ — yang dalam hal ini terjadi di pedesaan dan dilakukan oleh manusia lain yakni elit formal. Berarti, dalam konteks ini pekerjaan petani telah teralienasi dan mereka adalah kelompok teralienasi.

Dalam film, petani benar-benar dihisap dan dibuat menggantungkan diri pada kapitalis elit. Beberapa yang membelot merasakan sebuah dampak buruk ketika sayurnya tak laku dijual karena pasar yang direnggut oleh Bu Lurah. Keterasingan yang dialami oleh petani dalam film ditunjang lebih intens dengan shot yang menempatkan petani pada letak yang jauh (background) dan blur kemudian di-rack focus saat obrolan harga sayur petani turun sehingga mengesankan petani dipotret sebagai objek yang kecil, tak nampak dan teralienasi.

Lalu, bagaimana nasib petani pada sistem demikian? Apakah karena keberirisan dengan resistensi terhadap kapitalisme lantas membuat film ini menjadi film sosialis atau marxis dan membebaskan petani? Ideologi apa yang ditawarkan?

Pada Rumah Masa Depan, pembuat film dengan tegas dan berani tetap membenamkan petani pada kapitalis elit pedesaan tetapi pada kecenderungan yang lebih memihak pada kesejahteraan petani sebagaimana sifat elitisitas yang politis dan dinamis. Hal ini ditunjukkan dengan perjuangan politik para petani untuk mencari kuasa alternatif dengan meminta Sukri untuk menjadi penerus Pak Musa, bapaknya — sebagai kapitalis elit informal yang memihak.

Pilihan petani jatuh ke Sukri karena ia adalah seorang anak elit dan ia adalah elit. Di sini terjadi artikulasi elit yang menubuh pada diri Sukri — dan istrinya.

Dalam konteks ini, pembuat film menempatkan kapitalisme tidak pada raut yang bengis dengan balutan label tokoh protagonis utama yakni Sukri serta motivasi untuk membebaskan petani dari cengkeraman kapitalis elit formal yang kejam. Hal ini ditunjukkan dengan adegan meja makan di akhir film saat Surti merencanakan ekspansi pasar petani melalui e-commerce (wahana kapitalisme) dan motivasinya adalah agar restoran mendapat harga lebih murah serta memotong monopoli pasar oleh Bu Lurah tetapi sejatinya tetaplah mereka mapan pada kapitalisme itu sendiri.

Keputusan yang dilakukan oleh Sukri dan Surti dapat pula menjadi satu alternatif pilihan politik tentang kapitalisme hari ini. Kapitalisme pada akhirnya tidak untuk dihindari tetapi dijinakkan dengan kerja-kerja humanis terhadapnya — sesederhana dari level di pedesaan. Keputusan ini menawarkan pembacaan kepada penonton atas hegemoni kapitalisme pada dunia nyata pasca-menonton. Film ini menawarkan gagasan di tengah hari ini masih terjadi perdebatan ideologis antara kapitalisme dan sosialisme, marxisme atau komunisme dan ideologi-ideologi lain.

Dalam konteks film drama keluarga, dibandingkan film Sabtu Bersama Bapak (2016) atau film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020) film ini mampu untuk memberikan penawaran ideologis lebih jelas kepada penonton karena relasi tokoh dengan masyarakat luar dan problem masyarakat yang lebih erat dan meluas sehingga film ini lebih unggul dan progresif dalam segi isu dan pemaknaan.

Sekalipun dalam balutan drama dengan sentuhan komedi yang ringan dan menyenangkan, film ini sangat patut untuk diapresiasi karena berupaya menyentuh isu pinggiran yakni terkait petani yang ‘dekat’ dengan penonton. Penonton di desa tentu akan lebih merasakan kedekatannya tetapi penonton di kota tentu secara tidak langsung juga merasakan kedekatan tersebut karena komoditas pertanian dari desa lah yang dinikmati oleh masyarakat kota. Sehingga ketika terjadi masalah di hulu yakni petani maka hilirnya juga akan terasa — setidaknya pada pengusaha-pengusaha restoran di kota seperti Sukri. Komedi dalam film juga on point dengan pembebanan yang jamak pada karakter Gerhana yang dalam film ini diperankan secara memukau oleh Ciara Brosnan. Dengan looks anak kecil yang menggemaskan, pemilihan aktor pada tokoh ini dapat dikatakan berhasil. Ditambah lagi dengan akting ciamik dan nampak personal dari pemain lain terutama aktor inti dalam keluarga seperti Fedy Nuril, Laura Basuki, Bima Azriel dan Widyawati film ini mampu membangun sebuah drama keluarga sebagaimana mestinya.

Meskipun demikian, masih ada kekurangan dalam segi penceritaan ketika porsi Bu Lurah sangat singkat padahal ia memegang peran sangat besar dalam permasalahan di film ini. Alih-alih memberi porsi lebih pada Bu Lurah, kekalahan dari kelompok elit formal hanya ditunjukkan pada permintaan maaf Pak Lurah pada ibu Sukri dan keluarga serta rencana kemunduran Pak Lurah setelah anaknya tertangkap sebagai kriminal. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah hal itu cukup menjawab bahwa Bu Lurah akan berhenti menjadi elit kapitalis yang jahat? Belum tentu. Hal ini sedikit melemahkan dari ending yang diciptakan bahagia oleh pembuat film kala Sukri dan Sutri secara heroik “membebaskan petani”. Namun demikian, film ini dengan segala kekurangannya tetap sangat layak untuk ditonton. Selain drama keluarga, ia menawarkan nilai lebih yang bersifat intertekstual yang menyentuh banyak dimensi secara kompleks.

Dhamar Gautama

Seorang asisten pengacara sekaligus sutradara dan penulis film.

More in

Kritik

entrepreneurshipentrepreneurship

Kritik

TRADISI KENIKMATAN PALSU DAN PERAYAAN PEMBEBASAN PEREMPUAN DALAM FILM SEHIDUP SEMATI (2023)

24 Okt 2025

Kritik

TRADISI KENIKMATAN PALSU DAN PERAYAAN PEMBEBASAN PEREMPUAN DALAM FILM SEHIDUP SEMATI (2023)

24 Okt 2025

Kritik

TRADISI KENIKMATAN PALSU DAN PERAYAAN PEMBEBASAN PEREMPUAN DALAM FILM SEHIDUP SEMATI (2023)

24 Okt 2025

Kritik

Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh

31 Agu 2025

Kritik

Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh

31 Agu 2025

Kritik

Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh

31 Agu 2025

Kritik

Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa

31 Agu 2025

Kritik

Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa

31 Agu 2025

Kritik

Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa

31 Agu 2025

Kritik

Aparatus Rekonsiliasi: Reproduksi Kekerasan Budaya dalam 'Kupu-Kupu Kertas'

31 Agu 2025

Kritik

Aparatus Rekonsiliasi: Reproduksi Kekerasan Budaya dalam 'Kupu-Kupu Kertas'

31 Agu 2025

Kritik

Aparatus Rekonsiliasi: Reproduksi Kekerasan Budaya dalam 'Kupu-Kupu Kertas'

31 Agu 2025

Kritik

Melihat Penuturan Mitos dalam 3 Babak Narasi Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025)

31 Agu 2025

Kritik

Melihat Penuturan Mitos dalam 3 Babak Narasi Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025)

31 Agu 2025

Kritik

Melihat Penuturan Mitos dalam 3 Babak Narasi Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025)

31 Agu 2025

Kritik

GJLS (2025): Menertawakan yang Tidak Harus Ditertawakan

29 Agu 2025

Kritik

GJLS (2025): Menertawakan yang Tidak Harus Ditertawakan

29 Agu 2025

Kritik

GJLS (2025): Menertawakan yang Tidak Harus Ditertawakan

29 Agu 2025

Kritik

MEMVALIDASI STEREOTIPIKAL KORBAN PERUNDUNGAN DALAM PENATAAN KAMERA DAN NARATIF FILM LURUH (2025)

27 Jan 2025

Kritik

MEMVALIDASI STEREOTIPIKAL KORBAN PERUNDUNGAN DALAM PENATAAN KAMERA DAN NARATIF FILM LURUH (2025)

27 Jan 2025

Kritik

MEMVALIDASI STEREOTIPIKAL KORBAN PERUNDUNGAN DALAM PENATAAN KAMERA DAN NARATIF FILM LURUH (2025)

27 Jan 2025

Kritik

TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA

21 Jan 2025

Kritik

TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA

21 Jan 2025

Kritik

TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA

21 Jan 2025

Kritik

Hyper Reality, Repetisi; Refleksi dan Juxtaposisisi pada Film Budi Pekerti

26 Apr 2024

Blog cover image

Kritik

Hyper Reality, Repetisi; Refleksi dan Juxtaposisisi pada Film Budi Pekerti

26 Apr 2024

Blog cover image

Kritik

Hyper Reality, Repetisi; Refleksi dan Juxtaposisisi pada Film Budi Pekerti

26 Apr 2024

Blog cover image

Ingin kami hubungi setiap kami posting? isi emailnya ya!

Zero spam, just the good stuff

Ingin kami hubungi setiap kami posting? isi emailnya ya!

Zero spam, just the good stuff

Ingin kami hubungi setiap kami posting? isi emailnya ya!

Zero spam, just the good stuff

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.