Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa
Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa
Nasrudin Mardiansyah

Dalam masyarakat Indonesia, keberadaan gender non-biner dianggap sebagai hal yang liyan. Heteronormativitas adalah pandangan dominan dan satu-satunya yang dianggap benar dan normal dalam masyarakat sehingga keberadaan komunitas LGBTQ+ dianggap sebagai sesuatu yang menyimpang. Kelompok konservatif sering kali melakukan penyerangan secara fisik maupun non-fisik terhadap kelompok berorientasi seksual “liyan” ini. Tak hanya masyarakatnya saja yang diskriminatif, pejabat negara juga kerap melakukan marginalisasi terhadap komunitas ini. Pada Mei 2025 lalu, Bupati Cianjur terinspirasi dari kebijakan Gubernur Jawa Barat untuk mengirim siswa yang dianggap melambai ke barak militer [1]. Tentu saja ini merupakan tindakan yang problematis dan tak berdasar asas kemanusiaan yang sebenarnya dijamin oleh negara lewat Pasal 28I ayat (2) UUD 1945 yang menegaskan bahwa setiap orang berhak bebas dari perlakuan diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu [2]. Dengan kata lain, mengirim siswa yang dianggap melambai ke barak militer merupakan kerja-kerja diskriminatif dan justru mereproduksi stigma dan kekerasan terhadap ekspresi gender non-normatif. Pemerintah seharusnya bersikap adil dan melindungi hak-hak warganya dalam mengekspresikan dirinya, termasuk ekspresi gender.
Film Gowok: Kamasutra Jawa pada awalnya membuat saya tertarik karena muatan progresifnya tentang seksualitas, dobrakannya atas patriarki, emansipasi perempuan, dan juga hadirnya representasi queer dalam plot ceritanya. Pada ulasan kali ini, saya lebih tertarik menyoal dan membedah representasi queer dalam filmnya. Saya ingin mengajukan gugatan apakah film ini cukup representatif dalam memperlakukan karakter queernya? Satu-satunya karakter queer yang tampak sepanjang film adalah karakter bernama “Liyan”. Saya juga bertanya-tanya dan cukup mengernyitkan dahi ketika Hanung menamainya sebagai Liyan, seolah dari pemilihan namanya karakter ini sudah tersingkirkan dalam pembicaraan. Sesuai namanya, karakter ini diposisikan sebagai gender yang “alternatif” dalam pertarungan konflik dan drama karakter-karakter utamanya dalam film. Singkatnya, film ini bercerita tentang padepokan gowokan yang dipimpin oleh Nyai Santi. Pada tahun 1950, Ia mempunyai anak angkat bernama Ratri dan juga Liyan. Kebetulan, Kamanjaya yang merupakan putra bangsawan datang dibawa oleh orang tuanya untuk nyantri di padepokan itu dengan harapan bahwa sang putra mahkota akan menjadi lelananging jagad yang berarti laki-laki yang menjadi pemimpin dunia. Konflik bermula ketika Kamanjaya dan Ratri saling jatuh cinta, Ratri yang saat dewasa nantinya harus meneruskan ilmu gowok dari Nyai Santi merasa tidak dapat melanjutkan kisah asmaranya dengan Jaya. Sementara, Liyan tampak dalam film tampil celingak-celinguk memperhatikan mereka berdua. Liyan merupakan karakter yang merepresentasikan queer ditandai dengan performativitas yang tampak dalam karakternya. Ia tampil dengan pakaian bermotif bunga, memakai kebaya dan jarik, yakni kode-kode visual yang secara sosial diasosiasikan dengan feminitas yang dipresentasikan dalam tubuh laki-laki. Butler melihat bahwa konsep gender merupakan sesuatu yang tidak esensial ataupun tetap, tapi merupakan hasil dari serangkaian tindakan dan ekspresi berulang, dibentuk dari perilaku, bahasa, dan tindakan sehari-hari yang diulang secara terus menerus [3].

Karakter Liyan (kanan bawah) tampak duduk bersila. Kamera menyorot dan menempatkannya dalam posisi blocking sedemikian rupa sehingga tampak kecil dan tidak mendominasi.
Ketika saya bertanya kepada Hanung tentang karakter queer dalam filmnya seusai penayangan filmnya pada sesi pemutaran awal, Hanung menjelaskan Ia bermaksud memberikan ruang terhadap karakter queer bukan sekadar sosok luar namun sebagai bagian dari keluarga dengan bukti dalam film ditunjukkan dalam suatu adegan di mana Kamanjaya bertanya pada Ratri, “Siapakah tukang kebun itu?”. Ratri menjelaskan, “Dia bukanlah tukang kebun. Namanya Liyan, dia sudah dianggap sebagai anak Nyai Santi sendiri, sama seperti aku.” Dialog ini seolah tampak sebagai pembelaan dan pengakuan atas representasi queer dalam film. Walaupun demikian, saya menilai karakter yang ditampilkan tidak cukup kontributif terhadap keseluruhan cerita kecuali sebagai comic relief yang sayangnya direspon gelak tawa oleh penonton. Menurut Stuart Hall dalam encoding/decoding, hal ini menunjukkan bagaimana usaha representasi queer yang mungkin di-encode oleh sutradara tidak berhasil diterima oleh penonton secara progresif. Penonton justru melakukan dominant-hegemonic position dengan menertawakan kehadiran queer [4]. Dari sini kita bisa melihat bahwa karakter Liyan yang dibangun oleh Hanung telah gagal menjadi ruang perlawanan terhadap norma dominan dan justru terjebak dalam narasi stereotipikal. Apabila tidak ditemukan usaha lain dari Hanung yang tampak dalam layar untuk lebih eksploratif terhadap wacana seksualitas queer dalam film, maka bukan tak mungkin, ini justru meneguhkan sikap film terhadap heteronormativitas.
Liyan adalah karakter yang tidak cukup kontributif terhadap konflik yang dibangun dalam plot film. Di sepertiga awal film, karakter Liyan dipupuk seolah akan mempunyai peran besar di akhir film dengan menautkan kedekatannya dengan karakter Ratri. Namun sayang, kedekatan secara emosional itu tidak digali lebih lanjut untuk kepentingan dinamika hubungan antara dua karakter tersebut. Malah, semenjak latar waktunya bergeser ke tahun 1965, hadir karakter baru bernama Sri yang kini digambarkan lekat dengan karakter Ratri dewasa yang tampak membantu melancarkan kepentingan Ratri untuk membongkar misteri besar yang disembunyikan oleh Nyai Santi alih-alih menggunakan apa yang telah film ini bangun sejak awal film, yakni kedekatan emosional antara Ratri dan juga Liyan. Ada dua hal yang mengganggu saya; Pertama, keberadaan tokoh Sri yang ujug-ujug ada dan tak seharusnya ada. Kedua, disia-siakannya karakter Liyan yang potensial dalam pembangunan emosional karakternya. Pada sekuens akhir yang merupakan klimaks terakhir dalam film, ketika Ratri dikejar oleh Bagas yang murka dan hampir diperkosa, muncul tokoh Sri yang membunuh Bagas dan menjadi penyelamat Ratri. Adegan ini cukup mengecewakan saya bukan karena saya tidak membela narasi woman support woman, tapi karena saya menganggap akan lebih baik jika penyelamat Ratri adalah Liyan alih-alih membiarkan Liyan tidak diketahui keberadaannya setelah tragedi itu terjadi bahkan sampai film berakhir. Selain karena beban emosional karakternya yang telah dipupuk sedari awal film sudah sangat kuat, keputusan penyelesaian film yang demikian juga akan menjadi representasi queer yang ideal, sekaligus menyegarkan, mendobrak, menantang, dan mendekonstruksi pandangan masyarakat tentang heteronormativitas yang telah mengakar kuat.
Membicarakan seksualitas tidaklah cukup hanya terbatas pada dua polar laki-laki dan perempuan saja. Seksualitas seharusnya dipahami sebagai spektrum yang menembus batas-batas biner dan menggugat norma sosial yang dominan. Sekilas, film ini tampak progresif dalam menampilkan karakter Liyan sebagai representasi queer dalam kancah sinema Indonesia yang tayang di bioskop arus utama, namun kehadirannya tak lebih hanya sekadar karakter komedik yang dimaksudkan untuk memecah gelak tawa penonton. Representasi itu sangatlah ironis mengingat mayoritas masyarakat Indonesia belum sepenuhnya menerima adanya keberadaan indentitas gender non-biner. Sehingga, dengan menghadirkan karakter Liyan sebagai karakter komikal dan tak punya kontribusi signifikan dalam plot, justru berisiko menguatkan stereotip yang sudah mengakar di masyarakat.
Daftar Pustaka
[1] Selamet, I. (2025, Mei 5). Siswa Terindikasi LGBT di Cianjur Juga Bakal Dikirim ke Barak [Halaman web] Diakses dari https://www.detik.com/jabar/berita/d-7895955/siswa-terindikasi-lgbt-di-cianjur-juga-bakal-dikirim-ke-barak
[2] Sekretarian Jenderal MPR RI (2020). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Diakses dari https://mpr.go.id/img/sosialisasi/file/1610334013_file_mpr.pdf
[3] Butler, Judith. (1990). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. London: Routledge
[4] Hall, Stuart. (1980). Encoding/decoding. Culture, Media, Language, pp. 128–38. London: Hutchinson, 1980
Muhammad Nasrudin Mardiansyah
Influencer
Influencer Tiktok Talking About Film









