Melihat Penuturan Mitos dalam 3 Babak Narasi Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025)

Mitos horor menjadi salah satu bentuk cerita yang paling populer, baik mitos yang dituturkan melalui medium teks, audio, maupun visual. Noël Carroll dalam bukunya The Philosophy of Horror: Or, Paradoxes of the Heart (1990) menjelaskan bahwa cerita horor umumnya mengikuti konsep “entering the house of the monster.” Horor selalu menempatkan subjek dalam film untuk memasuki domain monster atau misteri. Dalam Kelas Skenario (2018), Salman Aristo & Arief Ash Shiddiq menjelaskan penulisan skenario ke dalam tiga babak: (1) seorang karakter memiliki keinginan tertentu, (2) karakter tersebut berusaha mengejar keinginannya melalui suatu cara, dan (3) karakter mengalami hambatan yang memunculkan konflik hingga penyelesaian. Proses bertutur inilah yang kerap digunakan sineas Indonesia dalam mengisahkan mitos ke dalam film horor. Format ini dapat diidentifikasi pula pada salah satu film horor tentang mitos yang disutradarai oleh Chiska Doppert dan ditulis oleh Erry Sofid, Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025).

·

31 Agu 2025

Melihat Penuturan Mitos dalam 3 Babak Narasi Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025)

Oleh Moch. Fadliawan

[TRIGGER WARNING! Tulisan ini mengandung pembahasan mengenai bunuh diri]

Pada kacamata antropologi budaya, manusia bukan hanya diklasifikasikan sebagai homo sapiens atau makhluk yang berfikir, tetapi juga sebagai homo narrans atau makhluk yang bercerita. Bercerita menjadi salah satu ekspresi yang dilakukan oleh manusia, baik cerita secara lisan maupun tulisan. Kepentingan bercerita pun beragam, mulai dari kepentingan keyakinan, pendidikan, hingga hiburan. Dalam ranah hiburan, masyarakat Indonesia telah lama mengenal tradisi bercerita secara lisan melalui penuturan dongeng, legenda, hingga mitos.

Mitos horor menjadi salah satu bentuk cerita yang paling populer, baik mitos yang dituturkan melalui medium teks, audio, maupun visual. Setiap medium memiliki gaya penceritaan yang berbeda, misalnya medium audio-visual pada film. Syd Field dalam Screenplay (1979) menyebut bahwa cerita pada skenario film adalah kisah yang dituturkan kembali melalui gambar bergerak. Dalam penceritaan melalui audio-visual, Field mengusulkan penggunaan struktur tiga babak yang berakar pada catatan Aristoteles, bahwa setiap cerita idealnya memiliki babak awal, tengah, dan akhir. Dalam praktiknya, setiap penulis tetap memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi detil di dalam babak-babak tersebut. Meskipun penuh variasi, narasi horor pada umumnya mengikuti pola tertentu. Noël Carroll dalam bukunya The Philosophy of Horror: Or, Paradoxes of the Heart (1990) menjelaskan bahwa cerita horor umumnya mengikuti konsep “entering the house of the monster.” Horor selalu menempatkan subjek dalam film untuk memasuki domain monster atau misteri.

Dalam Kelas Skenario (2018), Salman Aristo & Arief Ash Shiddiq menjelaskan penulisan skenario ke dalam tiga babak: (1) seorang karakter memiliki keinginan tertentu, (2) karakter tersebut berusaha mengejar keinginannya melalui suatu cara, dan (3) karakter mengalami hambatan yang memunculkan konflik hingga penyelesaian. Proses bertutur inilah yang kerap digunakan sineas Indonesia dalam mengisahkan mitos ke dalam film horor. Format ini dapat diidentifikasi pula pada salah satu film horor tentang mitos yang disutradarai oleh Chiska Doppert dan ditulis oleh Erry Sofid, Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025).

Babak 1 - Entering the House of the Monster

Melalui judul yang dipilih serta promosi di media sosial, film Pulung Gantung: Pati Ngendhat secara tegas menunjukkan fokusnya pada mitos pulung gantung, sebuah kepercayaan mistis dari Gunung Kidul, Yogyakarta. Dalam laman resmi Kalurahan Bendungan, Kabupaten Gunung kidul, terdapat artikel berjudul “Misteri Pulung Gantung” yang menjelaskan bahwa fenomena ini biasanya terjadi pada waktu Maghrib (18.00–20.00) atau menjelang Subuh (02.00–04.00) dan kehadirannya berupa bola api yang bergentayangan di langit. Kehadirannya dipercaya sebagai pertanda kematian, warga yang rumahnya didatangi pulung gantung diyakini akan melakukan bunuh diri dengan cara gantung diri.

Film Pulung Gantung: Pati Ngendhat menuturkan mitos ini melalui tokoh Ryan, seorang anak yang nekat pergi ke kampung halamannya di Desa Kidul (meskipun dilarang ibunya) setelah mendapat kabar kematian ayahnya yang bunuh diri akibat pulung gantung. Narasi ini sesuai dengan yang dijelaskan Salman dan Arief dalam penuturan skenario babak 1 bahwa cerita harus berjalan dari tokoh yang menginginkan sesuatu. Selain itu, narasi ini merefleksikan konsep “entering the house of the monster” dari Noël Carroll. Ryan diposisikan sebagai karakter yang melanggar batas larangan, karena meski ibunya melarang, ia tetap memutuskan pergi ke Desa Kidul, tempat yang dalam kerangka horor dapat dipahami sebagai “house of the monster,” plot ini akhirnya membuat Ryan berada dalam konflik yang kemudian menjalankan cerita. Secara naratif, babak pengenalan dalam film ini terasa cepat dan klise. Stakes yang dipertaruhkan nyaris tidak terasa, tidak ada konsekuensi berarti yang harus Ryan korbankan jika ia memilih untuk tidak pergi ke Desa Kidul. Pola seperti ini sering diambil oleh penulis skenario karena relatif sederhana dan memudahkan transisi menuju babak berikutnya.

Babak 2 - Tell! don’t Show!

Saat menjalankan keinginannya, Ryan mengajak saudara, teman, dan pacarnya untuk pergi ke Desa Kidul, bukan hanya untuk menemui jenazah ayahnya, Ryan pergi ke desa itu karena ia tertarik dengan titipan almarhum ayahnya. Di ke babak 2 film ini, Erry Sofid sang penulis skenario menjadikan Alana, pacarnya Ryan, sebagai karakter yang membuat dunia dalam cerita menjadi berkonflik. Alana tiba-tiba menjadi sasaran utama pulung gantung dan membuatnya terancam, sehingga mau tidak mau Ryan harus menyelesaikan problemnya di sana. Pada situasi ini, tujuan Ryan berubah dari yang awalnya ingin mencari tahu titipan almarhum ayahnya, menjadi ingin menyelamatkan Alana. Hal ini sejalan dengan konstruksi babak ke 2 yang dituliskan Salman dan Arief, yang mengatakan pada babak ini tercipta plot point atau kejadian yang membuat karakter utama tidak bisa kembali dan harus melanjutkan perjalanan dan konsekuensi atas pilihannya.

Untuk meningkatkan dramatisasi, Erry Sofid menambahkan banyak konflik. Namun, hal ini justru membuat esensi plot utama tidak tersampaikan dengan jelas. Skenarionya terasa tidak fokus, alur yang dibangun beberapa kali tidak berkesinambungan, dan dramanya kerap tidak pada tempatnya. Erry juga tidak jarang memunculkan karakter yang tiba-tiba hadir dan masuk ke dunia cerita tanpa penjelasan sebelumnya. Sehingga gagasan “show, don’t tell” dalam aspek mise-en-scène tidak sepenuhnya terwujud dalam Pulung Gantung: Pati Ngendhat. Untuk menyiasati kekurangan tersebut, Erry Sofid akhirnya memilih jalan pintas dengan menjelaskan informasi maupun kausalitas cerita yang gagal tergambarkan melalui mise-en-scène dengan dialog antar tokoh. Akhirnya, baik penonton maupun karakter dalam film mengetahui alur kausalitas bukan dari kekuatan dan kekhasan visual film, melainkan dari penjelasan verbal karakter lain.

Mitos pulung gantung memang menjadi cerita yang cukup populer bagi penikmat horor. Penuturannya kerap disampaikan melalui berbagai media audio-visual, salah satunya dokumenter. Dokumenter YouTube karya Kisah Tanah Jawa dalam segmen Special Episode: Mitos dari Gunung Kidul (2021) mengulas fenomena pulung gantung dari perspektif mistis, historis, dan psikologis. Narasi dalam dokumenter ini menyinggung asal-usul pulung gantung yang dikaitkan dengan masa Kerajaan Majapahit, ketika sang pemimpin dikisahkan moksa dengan cara gantung diri. Tindakan tersebut kemudian diikuti para pengikutnya, tetapi  meninggalkan energi negatif yang diyakini terus mencari calon korban lain. Meskipun demikian, hingga saat ini tidak ditemukan korelasi yang dapat disimpulkan antara mitos pulung gantung dengan kasus bunuh diri di Gunung Kidul. Tidak pernah pula ada bukti visual yang menunjukkan keberadaan pulung gantung. Karena itu, pulung gantung lebih tepat dipahami sebagai mitos, sementara fenomena gantung diri di Gunung Kidul merupakan persoalan sosial dan psikologis. Hal ini juga tervalidasi melalui buku Tali Pati (2003) karya Iman Budhi Santosa dan Wage Daksinarga yang memuat kisah para penyintas gantung diri di Gunung Kidul yang gagal mengakhiri hidupnya. Dari seluruh cerita yang dihimpun, terungkap bahwa percobaan gantung diri tersebut berakar pada kondisi psikologis para penyintas, bukan pada keberadaan pulung gantung.

Pandangan mistis dan psikologis ini lah yang dicoba dinarasikan di film Pulung Gantung. Namun, baik Chiska maupun Erry, sama-sama tidak mampu menyeimbangkan informasi dalam narasi Pulung Gantung: Pati Ngendhat. Elemen mistis dalam film ini selalu muncul untuk mendukung narasi horor, sementara elemen psikologis dan sosial hanya dijadikan informasi tambahan yang sama sekali tidak membentuk narasi pada film. Sementara itu, Ravacana Films, sebuah rumah produksi asal Yogyakarta, pernah mengangkat mitos pulung gantung melalui film pendek berjudul Lamun Sumelang (2019). Meski tidak secara eksplisit menyebutkan istilah pulung gantung, Ravacana Films mampu menarasikan mitos tersebut dengan rapi secara naratif dan mampu menyeimbangkan kebutuhan narasi dengan kearifan lokal yang melatarbelakangi mitos tersebut. Alih-alih menghakimi mitos ataupun korban, Lamun Sumelang justru menghadirkan refleksi baru yang lebih empatik terhadap fenomena sosial dan budaya di baliknya.

Pola penceritaan dalam film Pulung Gantung: Pati Ngendhat mengingatkan pada formula horor tipikal lawas yang kerap menempatkan perempuan sebagai pendosa sekaligus sumber malapetaka dan menambahkan unsur agama sebagai solusi akhir dari teror yang ada. Narasi dibangun dengan menegaskan bahwa perempuan yang dianggap menyimpang dari norma sosial dan moral menjadi sasaran kutukan. Di sekuen awal, penonton langsung disuguhkan adegan seorang ibu yang meninggal gantung diri, seakan membuka narasi bahwa sosok perempuanlah yang menanggung dosa pertama. Lalu konstruksi ini semakin ditegaskan melalui tokoh Alana, yang menjadi sasaran pulung gantung karena dianggap sudah tidak suci setelah melakukan hubungan badan di luar pernikahan. Pada babak akhir, konstruksi ini mencapai puncaknya dengan kematian ibu Ryan akibat kutukan tersebut. Ibu Ryan bahkan diposisikan sebagai akar dari segala teror pulung gantung. Rangkaian peristiwa ini menempatkan perempuan sebagai pihak yang terus-menerus membawa malapetaka.

Babak 3 - Ending Statement

Pada babak ke 3, film menutup seluruh rangkaian cerita dengan resolusi sekaligus menyampaikan argumen. Kisah Pulung Gantung: Pati Ngendhat ditutup dengan keberhasilan Ryan dan kawan-kawan untuk mengembalikan Alana dari teror pulung gantung, tetapi Ryan harus kehilangan kedua orang tuanya. Namun, narasi Pulung Gantung yang ditampilkan dalam film ini mengesankan keambiguan gagasan dan argumen Chiska sebagai sutradara. Melalui filmnya, Chiska menarasikan bahwa pulung gantung merupakan sebuah kutukan yang lahir dari amarah hantu akibat tanah keramat desa yang digunakan secara sembarangan. Narasi tersebut sama sekali tidak merepresentasikan mitos sebagaimana diyakini masyarakat pada umumnya. Memang, banyak mitos di Indonesia memiliki variasi penuturan di tiap daerah, misalnya larangan memotong rambut pada waktu tertentu, pamali saat magrib, atau tabu bersiul di malam hari, karena setiap daerah mengartikulasikannya dengan pendekatan budaya masing-masing. Akan tetapi, Pulung Gantung: Pati Ngendhat secara jelas dikenal sebagai mitos yang berasal dari Gunung Kidul. Unsur kaidah religi yang disertakan pada film ini turut menarasikan keambiguan, di satu sisi narasi ini memvalidasi mitos yang ada, tetapi di sisi yang lain, kaidah religi dijadikan keyakinan untuk menegasikan dan menghilangkan kepercayaan terhadap mitos pulung gantung.

Posisi sineas ketika berhadapan dengan mitos seperti pulung gantung sering kali abu-abu, di satu sisi mengamini mitos sebagai bahan narasi, namun di sisi lain menolaknya sebagai kebenaran. Hal ini membuka potensi menjadikan Pulung Gantung: Pati Ngendhat sebagai film horor yang menarik, meskipun tetap rawan terjebak pada apropriasi budaya sebagaimana yang terjadi pada film horor populer seperti KKN di Desa Penari atau Danur. Karena pada dasarnya horor di ranah perfilman Indonesia bukan dimaksudkan untuk edukasi, melainkan sebagai hiburan yang menegangkan. Dengan demikian, film horor yang bersumber pada mitos tidak dapat dijadikan acuan kebenaran, melainkan refleksi interpretasi sineas atas realitas budaya dan spiritual.

PULUNG GANTUNG: PATI NGENDHAT | 2025 | Durasi: Menit | Sutradara: Chiska Doppert | Penulis: Erry Sofid | Rumah Produksi: Makara Production | Negara: Indonesia

Rujukan:

Aristio, S., & Shiddiq, A. A. (2018). Kelas Skenario: Wujudkan Ide Menjadi Naskah Film.

Budhi Santosa, I., Daksinarga, W. (2003). Tali pati: kisah-kisah bunuh diri di Gunung Kidul. Indonesia: Jalasutra.

Carroll, N. (2003). The philosophy of horror: Or, paradoxes of the heart. Routledge.

Field, S. (1979). Screenplay (p. 10). New York: Delacorte.

Kisah Tanah Jawa. (2021). Mitos dari Gunung Kidul [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=Nli5-6MCPs4

Prastama, L. O. (Director). (2019). Lamun Sumelang [Film pendek, 18 menit]. Ravacana Films.

Warto. (2016). Misteri Pulung Gantung. Desa Bendungan Kabupaten Gunung Kidul.https://desabendungan.gunungkidulkab.go.id/first/artikel/118-Misteri-Pulung-Gantung

Mochammed Fadliawan

Mahasiswa ISI

Lulusan sekolah film, tapi lebih suka bikin video masak

More in

Kritik

entrepreneurshipentrepreneurship

Kritik

TRADISI KENIKMATAN PALSU DAN PERAYAAN PEMBEBASAN PEREMPUAN DALAM FILM SEHIDUP SEMATI (2023)

24 Okt 2025

Kritik

TRADISI KENIKMATAN PALSU DAN PERAYAAN PEMBEBASAN PEREMPUAN DALAM FILM SEHIDUP SEMATI (2023)

24 Okt 2025

Kritik

TRADISI KENIKMATAN PALSU DAN PERAYAAN PEMBEBASAN PEREMPUAN DALAM FILM SEHIDUP SEMATI (2023)

24 Okt 2025

Kritik

Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh

31 Agu 2025

Kritik

Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh

31 Agu 2025

Kritik

Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh

31 Agu 2025

Kritik

Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa

31 Agu 2025

Kritik

Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa

31 Agu 2025

Kritik

Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa

31 Agu 2025

Kritik

Aparatus Rekonsiliasi: Reproduksi Kekerasan Budaya dalam 'Kupu-Kupu Kertas'

31 Agu 2025

Kritik

Aparatus Rekonsiliasi: Reproduksi Kekerasan Budaya dalam 'Kupu-Kupu Kertas'

31 Agu 2025

Kritik

Aparatus Rekonsiliasi: Reproduksi Kekerasan Budaya dalam 'Kupu-Kupu Kertas'

31 Agu 2025

Kritik

GJLS (2025): Menertawakan yang Tidak Harus Ditertawakan

29 Agu 2025

Kritik

GJLS (2025): Menertawakan yang Tidak Harus Ditertawakan

29 Agu 2025

Kritik

GJLS (2025): Menertawakan yang Tidak Harus Ditertawakan

29 Agu 2025

Kritik

MEMVALIDASI STEREOTIPIKAL KORBAN PERUNDUNGAN DALAM PENATAAN KAMERA DAN NARATIF FILM LURUH (2025)

27 Jan 2025

Kritik

MEMVALIDASI STEREOTIPIKAL KORBAN PERUNDUNGAN DALAM PENATAAN KAMERA DAN NARATIF FILM LURUH (2025)

27 Jan 2025

Kritik

MEMVALIDASI STEREOTIPIKAL KORBAN PERUNDUNGAN DALAM PENATAAN KAMERA DAN NARATIF FILM LURUH (2025)

27 Jan 2025

Kritik

TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA

21 Jan 2025

Kritik

TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA

21 Jan 2025

Kritik

TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA

21 Jan 2025

Kritik

Rumah Masa Depan: Artikulasi Elit dan Alienasi Non-Elit dalam Kapitalisme Pedesaan

31 Agu 2024

Blog cover image

Kritik

Rumah Masa Depan: Artikulasi Elit dan Alienasi Non-Elit dalam Kapitalisme Pedesaan

31 Agu 2024

Blog cover image

Kritik

Rumah Masa Depan: Artikulasi Elit dan Alienasi Non-Elit dalam Kapitalisme Pedesaan

31 Agu 2024

Blog cover image

Kritik

Hyper Reality, Repetisi; Refleksi dan Juxtaposisisi pada Film Budi Pekerti

26 Apr 2024

Blog cover image

Kritik

Hyper Reality, Repetisi; Refleksi dan Juxtaposisisi pada Film Budi Pekerti

26 Apr 2024

Blog cover image

Kritik

Hyper Reality, Repetisi; Refleksi dan Juxtaposisisi pada Film Budi Pekerti

26 Apr 2024

Blog cover image

Ingin kami hubungi setiap kami posting? isi emailnya ya!

Zero spam, just the good stuff

Ingin kami hubungi setiap kami posting? isi emailnya ya!

Zero spam, just the good stuff

Ingin kami hubungi setiap kami posting? isi emailnya ya!

Zero spam, just the good stuff

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.