TRADISI KENIKMATAN PALSU DAN PERAYAAN PEMBEBASAN PEREMPUAN DALAM FILM SEHIDUP SEMATI (2023)

·

24 Okt 2025

TRADISI KENIKMATAN PALSU DAN PERAYAAN PEMBEBASAN PEREMPUAN  DALAM FILM SEHIDUP SEMATI (2023)

Oleh Della Rosa

Tradisi sinema sebagai ruang kenikmatan bagi pemenuhan hasrat penonton mungkin tidak akan bergeser begitu saja. Pasalnya, menonton film adalah cara tercepat untuk memenuhi keinginan terpendam yang secara tidak sadar telah terepresi begitu dalam—dengan mengidentifikasikan diri kita pada tokoh utama di dalam layar cerita.

Namun, bagaimana dengan penonton film-film yang mengusung tema kekerasan? Apakah mereka diam-diam menikmati dan berhasrat menjadi korban kekerasan? Atau fenomena tersebut merupakan representasi dari kekerasan yang telah dianggap kenormalan karena telah secara matang dikonstruksikan? Kekerasan—termasuk kekerasan domestik—menjadi suatu permasalahan penting dalam dominansi patriarkal. Film Sehidup Semati, yang menarasikan tema kekerasan domestik dengan pendekatan psychological thriller, turut andil dalam melakukan perlawanan terhadap penaklukan perempuan yang selalu dianggap sebagai makhluk posisi kedua.


Siklus Kekerasan Domestik sebagai Tradisi Kenikmatan Palsu


Dari awal menonton Sehidup Semati, kita langsung dibawa ke adegan flashback masa kecil Renata (Laura Basuki) yang memiliki Ibu sebagai korban kekerasan domestik. Namun pada momen itu, Renata kecil yang menjadi saksi kejadian, diajak berdoa dan diceramahi oleh ibunya sendiri bahwa apa yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak dapat dipisahkan. Pada adegan kekerasan itu juga diselingi oleh televisi yang  menayangkan khotbah seorang Pendeta (Lukman Sardi) akan posisi perempuan yang tidak akan pernah setara dengan laki-laki. Dalam adegan yang tak sampai tiga menit itu, kita sudah diberi tau sedikit petunjuk akan penyebab konflik dalam Sehidup Semati.

Sehidup Semati menceritakan tentang Renata yang menggelar acara pernikahan dengan bahagia, namun pada akhirnya harus bangun dari mimpi saat ia menyadari bahwa ia tinggal di pernikahan toksik. Kehidupan Renata dari menjelang bangun tidur selalu ia prioritaskan untuk mengurus suaminya terlebih dulu, Edwin (Ario Bayu). Namun, Edwin selalu tampak dingin dan bersikap kasar. Berbeda dengan ekspresi tulus yang ia hadirkan saat menikahi Renata.

Kegiatan Renata pun berputar sebatas dalam ruang-ruang domestik. Kita akan jarang melihat Renata memiliki aktivitas lain, selain melakukan pekerjaan rumah sambil menonton sinetron. Sebelum Edwin berangkat bekerja, ia juga memberi tau Renata untuk tetap diam di dalam apartemen. Terlihat jelas relasi kuasa dan identitas yang jomplang antara Edwin-Renata.

Pada babak pertama ini, konflik memecah saat ia mendengar suara desahan perempuan di sekitarnya. Semakin lama, ia semakin merasa jelas bahwa Edwin menyimpan perempuan lain di ruang kerja apartemen mereka. Kemudian, perempuan selingkuhan Edwin itu diduga adalah Ana, seorang penghuni apartemen yang hilang. Kemunculan Asmara sebagai sosok tetangga misterius juga memperkuat konflik karena ia selalu memengaruhi Renata untuk melawan Edwin.

Konflik juga semakin rumit ketika kekerasan selalu menjadi rutinitas yang sering dilakukan Edwin ke Renata. Asmara yang mengetahui hal itu berkata pada Renata “jangan-jangan lo suka ya digebukin suami lo? Dengan kayak gitu lo ngerasa disayang?”. Dialog Asmara mencerminkan bagaimana perempuan tampak harus tunduk pada laki-laki, apalagi jika itu suaminya. Meskipun seorang suami melayangkan kekerasan, kultur patriarki menanamkan hal tersebut sebagai bentuk “perhatian” dan “kasih sayang”.  Tradisi ini membuat perempuan diajari menikmati “kekerasan”, meskipun kenikmatan palsu tersebut lambat laun akan menjadi bom waktu.

Tradisi kekerasan domestik yang berulang dari generasi ke generasi juga dapat kita rasakan akibat orang tua yang turut melanggengkan “kepercayaan” itu. Doktrin-doktrin dari institusi agama yang selama ini mereka pegang bahwa istri tidak boleh durhaka terhadap suami, turut menjadi penyebab Renata dan ibunya mempertahankan rumah tangga yang disfungsional.


Kemunculan Asmara sebagai Hasrat Bawah Sadar Perlawanan

Saya sempat heran dengan sistem patriarkal dalam budaya kita: mencampur adukkan perempuan sebagai sosok superhero ajaib—istri yang patuh, pelacur yang binal, dan perawan yang agamais. Tiga figur kontradiktif itu memicu batasan-batasan yang kabur atas eksistensi perempuan. Namun, kejanggalan sejatinya adalah, mengapa kebebasan berekspresi  perempuan seolah diartikan sebagai rusaknya sebuah struktur? Sehingga penundukan dan kekerasan domestik menjadi senjata yang ampuh dalam "meluruskan" keliaran-keliaran yang sebenarnya tidak pernah ada?

Gambar 1 (Film Sehidup Semati Karya Upi, Sumber: Netflix)

Munculnya kedatangan Asmara juga menjadi titik balik perlawanan di film ini. Renata bertemu Asmara untuk pertama kalinya di lorong apartemen dan mereka masuk ke dalam lift secara bersamaan. Terlihat penampilan mereka yang sangat kontras dalam balutan medium shot [Gambar 1]. Renata dengan pakaian tertutup dan wajah tanpa riasan, sementara Asmara mengenakan pakaian terbuka dan wajah yang penuh make-up. Renata juga pada akhirnya berani untuk berteman dengan Asmara. Asmara yang tampak hidup dalam kebebasan, banyak menyadarkan akan betapa bodoh Renata yang memilih untuk bertahan dalam belenggu Edwin.

Setelah Asmara muncul dan banyak memberinya “ceramah”, Renata mulai berani melakukan aksi-aksi yang selama ini tabu untuknya—mabuk, menari, tampil seksi. Untuk pertama kalinya juga Renata mengenakan make-up dan wig serta mengenakan lingerie di hadapan Edwin. Walaupun setelah Edwin mencumbunya beberapa saat, Edwin menghina Renata sebagai “pelacur murahan”. Renata yang berani bertingkah “liar” dan melawan suaminya pun lagi-lagi dibuat babak belur. Hal ini mengisyaratkan jelas bagaimana seorang lelaki patriarki menginginkan istri yang bercitra baik, dapat mengurus rumah tangga, serta menggairahkan secara seksual namun jangan tampak sama seperti pelacur yang menggoda.

Kemunculan Asmara yang tampak abu-abu dan sering hilang-muncul, juga merupakan bagian dari fantasi dan hasrat perlawanan Renata yang selama ini ia pendam. Menurut Jacques Lacan, fantasi bekerja seperti film yang diputar di kepala kita. Ia bukan realitas, tapi sesuatu yang kita perlukan untuk menghadapi realita yang keras. Pada suatu adegan saat Renata sedang bersama Asmara, Renata bertanya “apa suami kamu gak marah penampilan kamu kayak gini?”. Renata memiliki hasrat terhadap kebebasan berekspresi yang terproyeksi melalui karakter Asmara. Namun ia memendamnya dalam pertanyaan itu karena merasa tidak mampu memperjuangkannya.


Anti-Sadistic Vouyerism dalam Menolak Kenikmatan Penonton

Jika Sehidup Semati membawa tema kekerasan domestik, apakah film ini akan terkesan sebagai ruang eksploitasi terhadap tubuh perempuan? Dengan kata lain, hanya sebatas menjadi sarana kenikmatan visual untuk penonton?

Tradisi sinema selama ini juga tampaknya belum terlepas dalam menjadikan perempuan sebagai sumber tatapan dan kenikmatan visual. Menurut Laura Mulvey dalam Visual Pleasure and Narrative Cinema (1975), perempuan seringkali dijadikan objek yang dikontrol melalui penghukuman—atau apa yang disebut sebagai sadistic vouyerism. Penghancuran dan penghukuman perempuan seringkali divisualkan secara eksploitatif sebagai sarana hasrat penonton.

Dibandingkan film-film Indonesia yang juga membawa isu kekerasan terhadap perempuan, seperti 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2010) atau Vina : Sebelum 7 Hari (2024), tampaknya Sehidup Semati memotret realita kekerasan dengan cara yang lebih berkelas. Jika 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita dan Vina merekam adegan kekerasan dengan framing long shot atau close up shot serta memperlihatkan perempuan dipukuli bertubi-tubi dalam durasi panjang, Sehidup Semati menggunakan cara-cara yang tidak menyuguhkan sadistic voyeurism.

Gambar 2 (Film Sehidup Semati Karya Upi, Sumber: Netflix)

Penonton langsung dapat menyadari hal itu sejak awal, yaitu pada adegan masa kecil Renata di mana ibunya bertengkar hebat dan mengalami kekerasan oleh ayahnya sendiri. Adegan kekerasan itu diperlihatkan hanya sebatas siluet samar dari balik pintu dengan durasi singkat [Gambar 2]

Gambar 3 (Film Sehidup Semati Karya Upi, Sumber: Netflix)

 Gambar 4 (Film Sehidup Semati Karya Upi, Sumber: Netflix)

 Pada adegan kekerasan dalam relasi Renata dan Edwin pun, untuk aksi kekerasan yang cukup panjang, seperti ketika Edwin ingin menyabet Renata dengan ikat pinggang karena dianggap bertingkah “liar”, diperlihatkan sebatas teriakan Renata dari balik dinding kamar [Gambar 3]. Atau ketika adegan kekerasannya divisualkan, diperlihatkan dalam durasi singkat tanpa terlalu menyoroti bagian-bagian tubuh Renata, serta tidak mengeksploitasinya dengan pukulan bertubi-tubi [Gambar 4].

Gambar 5 (Film Sehidup Semati Karya Upi, Sumber: Netflix)

Representasi kekerasan juga banyak ditampilkan dengan cara yang simbolik, seperti bekas memar di tubuh Renata pada refleksi cermin yang retak [Gambar 5]. Penerapan sinematografi kekerasan melalui simbol ini justru lebih mengguncang kesadaran kita. Karena kita seperti dipaksa untuk melihat manusia yang tubuhnya sudah hancur, namun harus tetap melanjutkan hidup di dalam kekacauan. Penonton juga merasakan trauma, bukan hanya melihat kekerasan. Dengan ini, Sehidup Semati turut menyatakan bahwa tubuh perempuan dalam sinema bukanlah ruang eksploitasi, melainkan medium untuk menyuarakan trauma dan perlawanan


Sehidup Semati, Anti-Hero Narrative & The Judas Effect

Penyuaraan atas pembebasan perempuan melalui Renata sebagai female anti-hero juga dibangun secara solid bukan dengan tanpa alasan. Karakter anti-hero menjadi respons terhadap kekecewaan dan keresahan publik atas institusi, moralitas, dan isu sosial-budaya. Kekecewaan inilah yang membuat female anti-hero memiliki “daya kejut” tersendiri, karena ketika laki-laki berperilaku buruk (male anti-hero), hal tersebut lebih dianggap lumrah. Berbeda ketika perempuan melakukan hal serupa, hal tersebut lebih mengejutkan, lebih provokatif, serta relevan dengan perjuangan gender.

Karakter anti-hero seringkali digambarkan sebagai sosok yang rapuh, bermoralitas ambigu, serta berani melanggar batasan demi apa yang ia inginkan. Tetapi, Renata bukan hanya karakter cacat. Ia merupakan cermin realitas dalam melihat bagaimana pahitnya isu kekerasan domestik di Indonesia. Dulu, female anti-hero seringkali hanya menjadi karakter yang menakut-nakuti perempuan agar tidak keluar dari jalur moral masyarakat. Namun sekarang, khususnya dalam Sehidup Semati yang mengusung Anti-Hero Narrative, Renata menjadi ruang katarsis penonton dalam melepaskan dendam dan ikut merasakan perjuangan perempuan.

Sejalan dengan Anti-Hero Narrative, film ini juga menampilkan The Judas Effect sebagai penggerak utama karakter Renata. Menurut Vlad Dima dalam The Judas Effect: Betrayal in Jean-Luc Godard’s Breathless (2016), The Judas Effect adalah pola naratif di mana pengkhianatan dan pengorbanan menjadi kunci cerita. Pola ini berbeda dari penutupan film-film arus utama, karena ia menunda atau bahkan merombak ending cerita yang biasanya mengikuti Classical (cinematic) Oedipal Cycle. Classical Oedipal Cycle sendiri merupakan pola naratif film klasik di mana tokoh utama melanggar aturan, jatuh, dan akhirnya dihukum atau tewas. Akibatnya, tatanan sosial dipulihkan dan cerita ditutup dengan rapi.

Gambar 6 (Film Sehidup Semati Karya Upi, Sumber: Netflix)

Dalam babak ketiga, Renata akhirnya menjadi pengkhianat atas janji “sehidup semati” dengan membunuh Edwin [Gambar 6]. Tindakan ini terbaca melalui gagasan Slavoj Žižek atas cinta dan pengkhianatan. Menurut Žižek dalam The Puppet and the Dwarf: The Perverse Core of Christianity (2003), kita mencintai seseorang bukan hanya karena sifat-sifat baik dari dirinya, tapi juga karena ada “sesuatu lebih” atau faktor “X” yang sulit dijelaskan.  Ironisnya, cara untuk menemukan faktor “X” itu justru lewat pengkhianatan. Dengan kata lain, pengkhianatan bisa menjadi momen paling jujur dalam cinta.

Hal serupa juga dikatakan oleh Jacques Lacan dalam Seminar XI: The Four Fundamental Concepts of Psychoanalysis (1978) lewat konsep objet a—yaitu sesuatu yang selalu kita kejar karena merasa ada kekosongan dari diri kita. Karena mencintai “objet a” itu, kita bisa sampai menyakiti orang yang kita cintai, sebab sebenarnya kita tidak benar-benar mencintai dia apa adanya

Gambar 7 (Sumber: Dokumen Pribadi)

Dalam kerangka Lacan-Žižek ini [Gambar 7], Renata bukan hanya mencari kebahagiaan melalui rumah tangga. Melainkan juga “sesuatu lebih” atau objet a yang tidak pernah hadir dalam pernikahannya—yaitu rasa dicintai, kebebasan, dan masa depan yang lebih baik. Jalan menuju pencarian objet a itu justru hadir melalui pengkhianatan atau pembunuhan, karena hanya dengan membunuh Edwin, ia bisa bebas dari sosok yang selama ini merebut jati dirinya. Lalu, justru melalui pengkhianatan paling ekstrem ini, Renata berhasil mendekat pada bentuk cinta paling murni, yaitu cinta pada dirinya sendiri.

Namun menariknya, pembunuhan itu terjadi setelah Edwin ingin menceraikannya. Padahal, Renata bisa saja menunggu perceraian itu lalu terbebas. Tetapi kebebasan melalui cerai tetap berada dalam aturan hukum dan norma sosial—yang berarti Renata hanya akan dipandang sebagai istri yang ditinggalkan. Itu bukan kebebasan yang ia hasratkan. Karena itu, pembunuhan menjadi loncatan radikal untuk keluar dari kerangka simbolik dan merebut kembali subjeknya sendiri.

Dalam pengkhianatan ini, penonton dipaksa bertanya: mengapa pembunuhan—yang jelas salah secara moral dan hukum—terasa lebih jujur dibanding perceraian yang sah secara sosial? Ini menunjukkan bahwa bagi Renata, kebebasan bukan sekedar soal status hukum, melainkan perebutan martabat yang tidak pernah bisa diberikan oleh siapapun. Dengan cara inilah Renata tidak hanya melepaskan diri dari Edwin, tetapi juga menemukan “sesuatu lebih” yang selama ini ia cari.

Pada akhirnya, psychological thriller menjadi genre yang dipilih Upi bukan untuk sekedar menebar aksi pembunuhan atau ketegangan pada penonton. Namun menjadi alat sinematik yang ia gunakan dalam menyuarakan logika pembebasan perempuan.

Penyelesaian Terbuka, Penyelesaian Yang Tak Pernah Selesai

Film ini lalu ditutup dengan impresi yang cukup menggantung. Kita tidak diberi tahu, bagaimana nasib Renata setelah membunuh suaminya? Atau mengapa selingkuhan Edwin bisa tinggal di apartemen mereka tanpa ketahuan oleh Renata yang sepanjang hari di apartemen? Saya percaya Upi bukan sutradara amatir yang menjejakki plot hole tanpa alasan. Atau sekedar membubuhi gaya eksperimental untuk membuat penonton bingung dan melabeli Sehidup Semati sebagai art cinema.

Penyelesaian yang tak selesai ini mengkritisi bagaimana permasalahan patriarkal di Indonesia belum selesai sampai sekarang. Walaupun di film ini, Renata mencari jalan atas tradisi patriarki di rumah tangganya dengan cara membunuh suaminya sendiri. Kebebasan perempuan kini dapat muncul dalam bentuk yang kacau, absurd, dan kejam. Karena dunia tempat ia bertindak sama kejamnya.

Aksi panggung Renata dalam membunuh Edwin juga tampaknya bukanlah satu-satunya solusi yang ingin ia lakukan. Sejak awal ia tak punya niat jelas akan hal itu. Jika ada jalan keluar lain selain membunuh—seperti adanya ruang-ruang yang dibuka oleh negara secara inklusi—mungkin Renata akan memilih jalan itu. Negara memang seharusnya turut membuka ruang aman dengan menitikberatkan hak asasi manusia sebagai prioritas, ketika aturan dari berbagai institusi akan lebih merugikan perempuan.

Namun, dalam konteks yang lebih dekat dengan realita, Upi mengisyaratkan pembunuhan yang dilakukan Renata sebagai penolakan terhadap sistem yang gagal sekaligus manifestasi dalam menyuarakan perempuan untuk berdaya. Sampai kapan perempuan harus tetap diam hanya karena dianggap makhluk posisi kedua? Permasalahan patriarkal dan kekerasan domestik boleh jadi belum selesai, namun ketika perempuan berdaya—baik fisik, mental, dan finansial—ia memiliki lebih banyak pilihan: untuk membela diri, mau pun pergi dan angkat kaki meski dengan suara yang berlumuran darah.


More in

Kritik

entrepreneurshipentrepreneurship

Kritik

Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh

31 Agu 2025

Kritik

Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh

31 Agu 2025

Kritik

Over-Poetic sebagai Teror Baru: Kritik atas Eksperimen Art-Horror Garin Nugroho dalam Puisi Cinta yang Membunuh

31 Agu 2025

Kritik

Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa

31 Agu 2025

Kritik

Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa

31 Agu 2025

Kritik

Liyan yang Liyan: Representasi Karakter Queer dalam Film Gowok Kamasutra Jawa

31 Agu 2025

Kritik

Aparatus Rekonsiliasi: Reproduksi Kekerasan Budaya dalam 'Kupu-Kupu Kertas'

31 Agu 2025

Kritik

Aparatus Rekonsiliasi: Reproduksi Kekerasan Budaya dalam 'Kupu-Kupu Kertas'

31 Agu 2025

Kritik

Aparatus Rekonsiliasi: Reproduksi Kekerasan Budaya dalam 'Kupu-Kupu Kertas'

31 Agu 2025

Kritik

Melihat Penuturan Mitos dalam 3 Babak Narasi Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025)

31 Agu 2025

Kritik

Melihat Penuturan Mitos dalam 3 Babak Narasi Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025)

31 Agu 2025

Kritik

Melihat Penuturan Mitos dalam 3 Babak Narasi Pulung Gantung: Pati Ngendhat (2025)

31 Agu 2025

Kritik

GJLS (2025): Menertawakan yang Tidak Harus Ditertawakan

29 Agu 2025

Kritik

GJLS (2025): Menertawakan yang Tidak Harus Ditertawakan

29 Agu 2025

Kritik

GJLS (2025): Menertawakan yang Tidak Harus Ditertawakan

29 Agu 2025

Kritik

MEMVALIDASI STEREOTIPIKAL KORBAN PERUNDUNGAN DALAM PENATAAN KAMERA DAN NARATIF FILM LURUH (2025)

27 Jan 2025

Kritik

MEMVALIDASI STEREOTIPIKAL KORBAN PERUNDUNGAN DALAM PENATAAN KAMERA DAN NARATIF FILM LURUH (2025)

27 Jan 2025

Kritik

MEMVALIDASI STEREOTIPIKAL KORBAN PERUNDUNGAN DALAM PENATAAN KAMERA DAN NARATIF FILM LURUH (2025)

27 Jan 2025

Kritik

TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA

21 Jan 2025

Kritik

TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA

21 Jan 2025

Kritik

TUHAN IZINKAN AKU BERDOSA UPAYA MENGGUGAT DETERMINISME DAN KEHENDAK BEBAS PADA PEREMPUAN DI INDONESIA

21 Jan 2025

Kritik

Rumah Masa Depan: Artikulasi Elit dan Alienasi Non-Elit dalam Kapitalisme Pedesaan

31 Agu 2024

Blog cover image

Kritik

Rumah Masa Depan: Artikulasi Elit dan Alienasi Non-Elit dalam Kapitalisme Pedesaan

31 Agu 2024

Blog cover image

Kritik

Rumah Masa Depan: Artikulasi Elit dan Alienasi Non-Elit dalam Kapitalisme Pedesaan

31 Agu 2024

Blog cover image

Kritik

Hyper Reality, Repetisi; Refleksi dan Juxtaposisisi pada Film Budi Pekerti

26 Apr 2024

Blog cover image

Kritik

Hyper Reality, Repetisi; Refleksi dan Juxtaposisisi pada Film Budi Pekerti

26 Apr 2024

Blog cover image

Kritik

Hyper Reality, Repetisi; Refleksi dan Juxtaposisisi pada Film Budi Pekerti

26 Apr 2024

Blog cover image

Ingin kami hubungi setiap kami posting? isi emailnya ya!

Zero spam, just the good stuff

Ingin kami hubungi setiap kami posting? isi emailnya ya!

Zero spam, just the good stuff

Ingin kami hubungi setiap kami posting? isi emailnya ya!

Zero spam, just the good stuff

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.