Tik-Tok sebagai Fenomena Filmis: Dari kepenontonan hingga demokrasi di Indonesia
Pada masa kiwari, media sosial menjadi ruang interaksi sosial baru, memungkinkan penggunanya membentuk “diri lain” dalam dunia artifisial. Diri itu aktif dan mampu membangun jejalin komunikasi sosial antarpenggunanya. Salah satu platform yang paling masif digunakan di Indonesia adalah TikTok dengan 194,37 juta akun pengguna per Juli 2024 atau sekitar 68% dari total populasi. Setidaknya itulah jumlah yang tercatat dalam laporan We Are Social and MeltWater Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai pengguna TikTok terbesar di dunia.
TikTok telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, diakses hampir setiap saat di berbagai ruang kehidupan. Pasca-bangun tidur, sebelum bekerja, pada sela-sela kerja, pasca-bekerja, sebelum tidur dst. Situasi tersebut menjadikan masyarakat sebagai masyarakat yang gemar menonton, masyarakat menonton, masyarakat penonton.
Sebagai media audio-visual, TikTok memiliki banyak kesamaan dengan film. Setidaknya secara mendasar konten Tiktok berisikan gambar bergerak (moving image) dan beraudio. Ia menjadi wahana distribusi teks, wacana, melalui format video pendek. Ia dapat memproduksi teks tidak hanya secara vulgar tetapi juga emosional.
Bahkan, setiap pengguna pada TikTok tidak hanya bisa berperan sebagai konsumen tetapi pula produsen, yang mensirkulasi informasi, wacana dan membuka ruang bagi beragam kepentingan.
Salah satu kepentingan yang terbukti dalam sejarah adalah kepentingan politik. Sejak Pemilu 2024, Di Indonesia, TikTok menjadi alat kampanye yang handal dan berpengaruh secara serius. Saat itu, ketiga pasangan calon presiden sama-sama menggunakannya, terutama pasangan Prabowo-Gibran si pemenang. Mereka memanfaatkan kekuatan audio-visual dan tren untuk mencitrakan Prabowo secara baru sebagai sosok “gemoy” yang lucu dan menggemaskan–berbeda dari citra sebelumnya yang kaku dan keras sebagai mantan militer.
Lagu kampanye “Oke Gas” yang euforis dan konten-konten yang atraktif dibuat untuk memperkuat citra ini. Kampanye juga diamplifikasi lebih bingar oleh peran buzzer dan seleb TikTok yang membentuk opini publik. Opini publik tersebut diproduksi secara emosional sekalipun tidak melulu logis dan rasional. Banyak konten gambar bergerak saat itu menyajikan konten-konten yang lebih cenderung emosional dengan penggunaan tangisan, ratapan atau lagu-lagu yang patriotis-melankolis.
Nyata pula, penggunaan TikTok yang demikian sedikit banyak berhasil membuat Prabowo merebut mayoritas suara, menang dan memimpin rezim hari ini.
Mengingat adanya banyak kemiripan antara konten Tiktok dengan film sebagai praktik audio visual berikut masyarakat penontonnya yang masif, tulisan ini lebih jauh akan membahas bagaimana konten TikTok dapat dipahami sebagai fenomena filmis—yakni adanya praktik audio-visual yang menampilkan ciri, teknik, dan fungsi serupa dengan film. Tulisan ini barangkali tidak akan bergelut pada pertanyaan ontologis apakah konten Tiktok itu film–sekalipun menurut penulis adalah iya–tetapi bagaimana kerja-kerja filmis berlaku pada konten Tiktok. Lebih jauh pula, tulisan ini akan membedah bagaimana TikTok mempengaruhi pengalaman menonton dan bagaimana konsekuensi secara politis serta pengaruh pada pembentukan wacana publik, opini publik hingga kebenaran publik. Ketiga atribusi publik itu bila ditarik lebih jauh dapat bertemu dengan satu ide besar yakni demokrasi, sebuah ide besar tentang masyarakat beragam, tentang penyediaan mekanisme terbuka, partisipatif untuk sebuah konsensus bersama.
Tiktok sebagai Fenomena Filmis
Pada mulanya film hanya sebagai teknologi mekanis ketika teknologi cinematograph pertama kali dibeber ke publik oleh Lumiere Bersaudara pada 1895. Dengan teknologi baru itu gambar bergerak dapat ditangkap dan dipreservasi. Ia kemudian berkembang menjadi “seni” melalui upaya formalisme film sebagaimana misalnya gagasan-gagasan Rudolf Arnheim. Pada intinya apa yang ditanggung oleh film tidak hanya kemampuannya dalam preservasi realitas, tetapi dapat pula sebagai seni yang unik dan hanya dimiliki oleh film yakni gambar bergerak yang representatif seni. Teknik-teknik seperti montage masuk ada pembahasan ini. Selanjutnya film bahkan berkembang sebagai pemikiran sebagaimana Deleuze melalui Movement Image dan Time Image.
Lalu apa kaitannya dengan konten Tiktok? Apakah konten Tiktok adalah film? Jika iya, apakah ia sebagai teknologi, seni atau pemikiran? atau ada keniscayaan di luar itu?
Alih-alih bergulat dengan perdebatan ontologis gigantik tersebut, penulis mencoba meletakkan antara konten Tiktok sebagai fenomena filmis. Fenomena filmis sederhananya dapat diartikan sebagai keadaan dimana sebuah hal dilakukan dengan pendekatan-pendekatan film, baik ciri, teknik atau fungsi.
Gambar bergerak menjadi esensi utama dari sebuah film–yang membedakan dengan seni lain. Saat teknologi baru berkembang, elemen audio kemudian ikut menyusul pada 1927 melalui film The Jazz Singer. Menjadi jamak kemudian film dengan gambar bergerak dan audio hingga hari ini. Teknologi melahirkan teknik, dan teknik melahirkan pula teknologi. Setidaknya itulah yang dikatakan Seno Gumira dalam bukunya Film dan Pascanasionalisme.
Baik film maupun konten TikTok keduanya sama-sama menampilkan gambar bergerak dan audio. Secara ontologis sebenarnya keduanya memiliki kemiripan bahkan cenderung evolutif.
Gambar bergerak film yang secara tradisional diputar melalui bioskop, setelah kemunculan komputer, laptop, ponsel pintar, dsb., pemutarannya menjadi lebih fleksibel dan longgar. Penonton dapat menonton dimana saja dengan berbagai macam suasana. Pada Tiktok, gambar bergerak dapat dinikmati dan dialami di mana saja dengan suasana yang bervarian pula. Gambar bergerak dengan mudah diganti hanya dengan scrolling seperti kita bekerja pada etalase vertikal. Penonton Tiktok mengalami gambar bergerak dengan transformasi cara menonton dan media yang baru.
Bahkan, TikTok memiliki fitur konten beberapa foto atau gambar yang dapat digeser oleh pengguna dengan disertai audio yang terus memutar. Evolusi kembali terjadi ketika gambar menjadi "bergerak" atas kuasa pengguna. Gambar bergerak Tiktok menjadi lebih partisipatif bahkan desentral secara ekstrem pada fitur ini.
Pada konten TikTok pula, untuk memproduksi gambar bergerak sama memanfaatkan sebuah kamera—bahkan TikTok lebih mudah dengan kamera ponsel. Banyak teknik editing seperti montage, penggunaan kamera statis atau movement yang atraktif, cepat, impresif, tipe shot subjektif, POV, close up, medium close up serta transisi yang bahkan sangat liar seperti konten jedag-jedug digunakan dengan motivasi sebagaimana teknik sinematik pembuatan film. Bahkan, penggunaan sound seperti lagu kampanye “Oke Gas” menunjukkan bagaimana musik dan visual dipadukan untuk menciptakan efek emosional dan estetis.
Selain itu, konten Tiktok juga memiliki ideologi dan wacana seperti film. Dalam setiap gambar dan audio, ideologi selalu berdiri menjadi motivasi politis. Terdapat pertimbangan-pertimbangan ideologis dalam setiap pemilihan gaya konten, teknis hingga isi sebuah produksi konten. Dalam film, ideologi juga berjalan pada pola yang sama. Setiap pillihan teknis, narasi, dari pra-produksi hingga pasca-produksi telah melalui pergulatan ideologis dari pembuatnya. Comolli dan Narboni dalam Cinema/Ideology/Critism menyatakan hal yang selaras bahwa film ditentukan oleh ideologi yang memproduksinya sehingga pula ia sangat politis.
Pada sisi wacana, setiap film tentu pula menawarkan wacana yang melekat pada apa yang ditampilkan/muncul dan konteks yang dikenakan pada film tersebut. Sebagai sebuah moda wacana, film memberikan pengetahuan sekaligus menjelma kuasa pada penonton. FIlm secara umum yang otak terbesarnya berada pada sutradara sebagai pembuat, mengampu beban rezim kebenaran milik si pembuat yang disampaikan pada setiap wacana dalam film. Pada konteks TikTok, umumnya wacana diproduksi oleh si pengguna atau user itu sendiri. Ia menjelma peramu karya ulung yang siap menghantar kuasa dan pengetahuannya pada publik–pada pengguna lainnya.
Sebagai contoh, ketika pemilu 2024 banyak sekali para pengguna baik dari kalangan elit politik atau warga biasa membuat konten tentang pemilu. Wacana pemimpin ratu adil, intelektual, pemimpin lucu dan bersahabat hingga wacana keberlanjutan atau perubahan berhamburan saling-silang dan silang-saling di beranda TikTok. Para pengguna yang terpapar hamburan wacana itu kemudian dapat meresponnya. Perdebatan-perdebatan atau respon yang muncul kala itu berartikulasi secara masif sebagai penanda bahwa wacana sangat hiruk pikuk. Wacana ditawarkan dan dinegosiasikan secara partisipatif oleh para pengguna.
Dari beberapa poin kesamaan filmis antara film dan Tikok di atas menunjukkan bahwa sebagai produk audio visual keduanya menjanjikan tawaran besar yang relatif sama. Cara tutur dan kerja film pada konten TikTok adalah keniscayaan yang terjadi. Kesemuanya adalah konsekuensi dari eksistensi gambar bergerak yang terus berkembang dan berevolusi.
Cara Kerja Tiktok
TikTok sebagai media sosial berbasis video pendek telah memperkenalkan pola konsumsi media baru yang lebih interaktif, desentralistik, dan partisipatif. Seiring perkembangan internet Web 2.0, pengguna tidak lagi hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai produsen konten, menciptakan pengalaman media yang lebih demokratis. Internet Web 2.0 memungkinkan pengguna dapat berinteraksi satu sama lain. Pengguna dapat menggelar jejalin komunikasi dengan user lain secara bebas. Pengguna pada saat yang sama memiliki kuasa secara penuh atas akun yang dimiliki, atas konten-konten apa yang akan diproduksi.
Dengan karakter desentralistik, pengguna TikTok memiliki kebebasan untuk membuat dan menyebarkan konten–yang filmis. Tidak seperti film tradisional yang wacananya disampaikan dalam suasana formal di bioskop, TikTok memungkinkan penyebaran wacana secara lebih personal dan fleksibel melalui perangkat mobile (mobile cinema). Ini membuka pergeseran dalam bagaimana kuasa/pengetahuan diformulasikan dan diterima. Kuasa/pengetahuan dihantar secara mandiri oleh otoritas pengguna dengan sangat mudah.
Selain itu, keunikan TikTok dibanding media sosial lain terletak pada algoritmanya dalam For You Page (FYP), yang menyajikan konten berdasarkan minat pengguna, bahkan dari akun yang tidak mereka ikuti. Algoritma ini membentuk pengalaman menonton secara intens dan mempersonalisasi konsumsi media. Dalam prosesnya, terjadi profiling yang mengonstruksi “identitas algoritmik”, yaitu pembingkaian identitas pengguna berdasarkan data interaksi pengguna dengan konten. Konsekuensinya barangsiapa yang memenangkan algoritma, kesempatan untuk ditonton dan diterima wacananya akan semakin besar. Relasi dalam algoritma adalah relasi timbal balik yang akan membentuk dan mengerucutkan, mengeksklusi bahkan mengiisolasi pada wacana tertentu pada pengguna.
TikTok juga menjadi platform yang sangat partisipatif melalui fitur-fitur seperti komentar dan stitch, yang memungkinkan dialog antarkonten. Interaksi ini menandai pergeseran logika sinema ke arah yang lebih terbuka dan demokratis, di mana siapa pun bisa menjadi sutradara, kritikus, dan penonton sekaligus. Tentu dengan mudah dan praktis tanpa harus merogoh budget sebagaimana film-film produksi konvensional. Praktik pewacanaan pun menjadi lebih dinamis dan bisa dinegosiasikan secara luas antar pengguna.
Kepenontonan dalam TIktok
Kepenontonan dalam TikTok terjadi di tengah pergeseran sinema menuju era post-cinema, yakni masa ketika film tak lagi eksklusif diputar di bioskop, dan penonton tidak lagi pasif. Dalam TikTok, penonton memiliki peran ganda sebagai konsumen sekaligus produsen konten. Mereka aktif memaknai, menanggapi, bahkan menciptakan kembali konten melalui komentar, stitch, atau repost. Kondisi desentral dan partisipatif itulah yang membuat kepenontonan mengalami transformasi.
Penonton TikTok dapat menonton dan memaknai konten secara bebas, personal, dan kreatif. Menonton adalah pula melakukan praktik pemaknaan.
Secara alamiah ketika seseorang menonton, ia akan menerima banyak informasi melalui pembacaan atas tanda, simbol, teks yang ada pada konten Tiktok atau film. Praktik pemaknaan itu jujur sebagai respon atas gumpalan sensasi, wacana, dan pengalaman sebuah tontonan. Kondisi ini menciptakan tipe penonton organik—mereka yang memaknai konten berdasarkan pengalaman dan sudut pandangnya sendiri, tanpa intervensi dari kekuatan eksternal. Ia berhasil melakukan praktik pemaknaan sebagai subjek dan menjadi agen atas dirinya sendiri.
Namun dalam konteks politik, khususnya Pemilu 2024, muncul entitas penonton non-organik—para buzzer. Mereka bukan penonton murni, melainkan bagian dari strategi politik untuk membentuk opini publik. Buzzer bekerja sebagai penyebar narasi tertentu, baik melalui konten atau komentar, seringkali tanpa kesadaran penuh atas posisi mereka, karena dikendalikan oleh kapital besar.
Penonton non-organik, buzzer berbayar, kehilangan kemampuan untuk menonton dan memaknai secara jujur. Mereka berperan dalam produksi dan sirkulasi wacana yang sudah dibentuk oleh kuasa eksternal. Ini menciptakan kondisi kepenontonan yang terputus dari kesadaran, yang secara konsep mencerminkan hilangnya agensi subjek dalam praktik pemaknaan itu.
Maka kepenontonan dalam TikTok tidak lagi bisa dipahami secara naif dan sederhana. Ia terbagi antara penonton organik dan penonton non-organik yang saling bertarung. TikTok menjadi arena penting dalam pertarungan wacana, citra, dan pengaruh publik. Mengubah praktik menonton menjadi medan strategi kuasa yang bisa dimenangkan.
Tiktok sebagai Arena Pertarungan Wacana
Seiring perkembangan teknologi dan internet, ruang publik tidak lagi terbatas pada dunia nyata, melainkan juga meluas ke ruang digital. TikTok menjadi wadah ekspresi politik yang masif, memungkinkan warga untuk menyuarakan pendapatnya secara bebas dan aktif—sesuai prinsip dasar demokrasi.
Mengkontekskan dari L. Diaz Romero, media sosial adalah bentuk ruang publik digital (digital public sphere) yang memungkinkan deliberasi atau diskusi rasional secara terbuka. Dalam konteks TikTok, setiap pengguna menjadi produsen wacana. Konten-konten TikTok memuat ideologi dan kepentingan tertentu yang secara aktif dipertarungkan di ruang publik digital. Siapa yang dapat menguasai wacana publik, akan mempengaruhi persepsi publik tentang “kebenaran” publik.
Fenomena ini terlihat jelas dalam Pemilu 2024 di Indonesia. TikTok digunakan secara masif untuk kampanye politik. Pasangan Prabowo-Gibran dinilai berhasil menguasai ruang publik TikTok, antara lain lewat konten-konten viral seperti joget “gemoy”, sound Oke Gas, dan narasi emosional yang membingkai Prabowo sebagai figur simpatik.
Banyak penonton non-organik yang memproduksi konten gambar bergerak yang emosional. Salah satunya adalah konten menangisi Prabowo yang kalah debat. Padahal debat adalah ruang silang argumen yang dapat dinilai secara objektif dan ilmiah. Alih-alih pencapaian kebenaran objektif, sensasi emosional pada konten-konten tangis itu mengaburkan penilaian berdasarkan fakta.
Strategi ini memperlihatkan bagaimana citra politik dapat direkayasa dan disebarluaskan secara efektif melalui konten filmis yang emosional dan mudah dikonsumsi. Situasi pasca-kebenaran yang menempatkan kebenaran tidak didasarkan pada fakta tetapi emosi benar-benar terjadi.
TikTok memperkuat dinamika ini dengan algoritma yang menciptakan identitas algoritmik, yakni klasifikasi pengguna berdasarkan minat dan perilaku mereka. Algoritma menyaring konten sesuai dengan preferensi pengguna, yang memperkuat bias dan menciptakan ruang gema (echo chamber). Hasilnya, pengguna lebih mudah terdorong untuk berpihak pada satu narasi dominan, memudahkan aktor-aktor politik untuk mengarahkan opini publik.
Pada Pemilu 2024, penonton organik lebih sering “dikalahkan” oleh penonton non organik/buzzer yang membanjiri ruang publik dengan narasi emosional, manipulatif, dan tidak selalu logis dan rasional. Ini menyebabkan praktik pemaknaan menjadi bias dan ruang publik menjadi arena pertarungan “tak netral”. Kebenaran pubik sangat mudah dikuasai oleh irasionalitas.
Ini menjadikan demokrasi secara politis lebih runyam dan kompleks. Konsensus menjadi tidak akan sederhana. Pada tataran permukaan, perebutan suara mayoritas dalam demokrasi elektoral mengalami akumulasi siasat dan fabrikasi yang menggila. Pada lapis demokrasi yang seharusnya lebih mudah dilakukan itulah ternyata negosiasi berjalan lebih nirsubstansial. Pertarungan faktual diambil alih pertarungan emosional. Demokrasi deliberatif rasional kiranya menjadi jauh untuk dicapai.
Beberapa waktu terakhir, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menggunakan media yang sama: Tiktok. Gambar bergerak yang ia tawarkan sangat populis dan emosional. Kebijakan egois dan dangkal terkait pengiriman murid nakal ke barak militer banyak didukung oleh konten-konten tangisan haru patriotik-melankolis serupa. Memunculkan pro dan kontra khalayak. Penonton non-organik ramai bergerak menyokongnya. Menandakan bahwa TikTok yang filmis tetap efektif untuk dicoba pertarungannya.
Pada akhirnya praktik pemaknaan dalam ruang TIktok semakin hari harus dibaca kembali, sebab di sana lah arena pertarungan: wacana, ideologi, kebenaran. Barang siapa yang memenangkan wacana di ruang publik, ia akan memenangkan kebenaran di ruang publik. Kebenaran yang memang bukan kebenaran sejati. Tetapi setidak-tidaknya ia adalah kebenaran publik, kebenaran orang banyak yang akan berujung pada keputusan politik publik, kebijakan-kebijakan publik.
Pada akhirnya di antara itu, Tiktok bertransformasi menjadi “bioskop” baru. Kontennya adalah “film” baru. Penontonnya adalah penonton sekaligus sutradara atau produser baru. Kepenontonannya adalah kepenontonan baru. Ia adalah media baru yang politis, semarak dan ditonton sepanjang hari. Maka ruang itu adalah ruang baru, public sphere baru. Perlu dibaca dengan baru dan direspon dengan baru.
Dikembangkan dari presentasi penulis di Bandung International Student Film Festival 2024 di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung tanggal 29 November 2024.
Dhamar Gautama
Seorang asisten pengacara sekaligus sutradara dan penulis film.

